Monday, October 7, 2013

Bukan Cerita Seorang Pecundang

Mengintip awan dari celah jendela. Sedikit ia intip, ia bukan seorang yang empunya nyali besar melihat luasnya atap semesta. Biar orang berkata apa, ia tak pernah peduli, seorang pecundang yang tak siap melihat nyatanya kenyataan. Dirinya tahu langit Tuhan begitu terhampar luas. Umpama debu yang mudah dihempas, ia merasa terhempas. Aku ingin memapahnya menjalani jalan berkelok, bukan jalan yang lurus, jalan lurus hanya untuk pecundang yang membosankan. Membawanya pada dunia fana dan mengantarkan dirinya pulang pada riuh sorak bahagia. Abaikan saja gunjingan dan tawaan mereka yang tak miliki impian, keinginan mereka hanya menjadi hartawan saja yang ketika mati pun harta tidak akan menjadikannya sebagai ahli surga. Hidup di dunia bukan hanya soal rupiah. Rupiah hanya genggaman pasir yang bisa didapatkan dan mudah terlepas. Apa artinya hidup bila mimpi masih berada dalam lelapnya tidur?
Nobody can’t stop her dream. No one can’t stop my dream.

Rabu, 2 Oktober 2013

22:25

Monday, September 30, 2013

Inner Rage (Kemarahan Batin)

“Kadang sering nrimo dan legowo dalam hidup itu kurang bagus juga karena kadang kita perlu energi marah supaya semangat mengubah nasib”- Ika Natassa

Kalimat tersebut membuatku membuka mata. Ternyata selama ini terlalu pasrah dan menerima keadaan itu bukanlah hal yang yang baik. Aku selalu menginginkan semua hal baik-baik saja. Ketakutanku terlalu berlebihan, aku takut semua hal berubah, aku takut hal buruk akan menimpaku dan aku takut jika kemarahanku akan menyakiti hati orang lain. Tak pernah siap untuk menerima perubahan yang buruk.
Apakah mungkin nasibku seperti ini karena terlalu nrimo dan legowo? Energi untuk marah rasanya sudah berkurang. Kekuatan untuk memecahkan emosi sudah berlalu. Aku hanya tak mau hanya karena ingin melapiaskan ego dan amarah semua hal bisa berubah. But, honestly, I wanna angry, shout and cry but I’m too scared.
Namun hal yang mendasari sebuah perubahan adalah dari dorongan hati kita sendiri. Ya, aku memang ingin suatu perubahan tapi perubahan yang baik tapi apakah dengan menyimpan amarah dalam batin bisa mengubah nasib?
A little dose of rage bisa membuatmu sedikit lega. Menyimpan sedikit amarah dalam batin dan memotivasi diri sendiri dengan cara membuktikan bahwa diri kita tidak pantas dilecehkan atau rendahkan. Tunjukkan tanpa dendam bahwa diri kita seorang yang ‘bisa’ dan tidak mudah dimanfaatkan. Memang hidup kita harus bermanfaat bagi orang lain tapi jangan mau dimanfaatkan. Bulatkan tekad, simpan amarah dalam batin untuk menunjukkan bahwa diri kita adalah seseorang yang istimewa dan berbeda.

Senin, 30 September 2013

18:20

Monday, September 2, 2013

Thanks God, I’m 23 and Be Bachelor

1 tahun, 12 bulan, 365 hari berlalu bagai angin yang berlari. Setahun kemarin promblema hidupku berbeda dengan tahun ini, semakin berwarna meski ada yang tetap sama. Beban hidupku bertambah meski masalah berkurang. Hidup seimbang itu tidak mudah tetapi juga tidak sulit.
1 tahun yang lalu, usiaku masih 22 tahun, the twins number. Setahun melangkah ke depan memang terasa begitu cepat, bagai angin yang menyambar api dan membakar hebat apapun yang ada di sekitarnya. Perjuangan hebat menuju angka 23.
1 tahun berlalu bersama skripsi membawaku menjadi seorang sarjana. Ya, seorang sarjana sastra. Pahit manis asam berkuliah memperjuangkan sebuah gelar tidak ada yang mudah, semua hal baik atau buruk pernah mencapai titik jenuh, titik jatuh, titik klimaks yang berjalan beriringan mencapai satu hal tujuan yang dinamakan titik klimaks. Suatu berkah di angka 23 bertepatan dengan keberhasilanku sebagai seorang mahasiswa yaitu lulus tepat waktu dan tepat pada waktunya.
1 tahun kemarin, Tuhan memberikan kesakitan luar biasa. Hati tak kuat menahan apapun masalah yang dihadapi, tetapi tahun ini saatnya menemui sebuah auflarung. Sebuah pencerahan untuk membuka gerbang kehidupan sebenarnya, menjalani dan belajar menjadi dewasa. Terimakasih Tuhan. Semoga senyuman-Mu tak akan berhenti menyimpul padaku.
Pada angka 23 tahun ini, aku mendapat 3 kejutan, 3 kue tart, dan 3 hadiah. Ini adalah bukti bahwa Tuhan masih ingin tersenyum padaku. Seorang sahabatku, Ica yang sudah kuanggap seperti adik kecilku meski tubuhnya lebas besar dariku, ia mendatangi rumahku tepat pukul 2 malam saat mata terpejam lelap dan membawakanku blackforest. Bahagianya hidupku. Akupun tertidur kembali dan mendapati kekasihku, Fajar, mengetuk pintu pukul 9 pagi dan membawakanku pula blackforest dan sebuah kado berbalutkan kertas berwarna peach bergaris merah yang berisi sebuah tas Flashy yang berukuran besar. Lengkaplah kebahagiaanku. Dua hari berlalu, kedua sahabatku yang sudah seperti 2 saudari kandungku, Vina dan Ita mereka mendatangi rumahku pukul 10 malam bersama kedua sahabatku sejak SMA Ebi dan Doni. Tiramisu dikelilingi cahaya lilin warna-warni menerangi gelapnya malam saat itu, tak lupa mereka membawakan 2 hadiah untukku, sepasang wedges cantik berwarna coklat bermotif ethnic dan tas Zara berwarna baby pink. Kebahagiaanku sempurna.

Rangkaian doa yang bertaburan mungkin hanya sebuah basa-basi dan sekedar pelengkap ucapan namun bagiku tidak, aku benar-benar meng-amien-kan semua doa. Dari mulai doa selalu sehat hingga doa agar bisa bertemu di puncak kesuksesan karier dan tentu saja doa cepat menikah tak mungkin lupa diucap. Tuhan, kabulkanlah setiap doa mereka, doa ibuku, kedua saudariku, doa sahabat-sahabatku, dan semua doa yang terucap dari setiap mulut umat-Mu. Sekali lagi Tuhan, terimakasih Engkau masih ingin mengembangkan senyum-Mu padaku.








 Senin, 2 September 2013
 00:15

Saturday, August 24, 2013

How About Sincerity and Foolishness, Guys?

Selasa siang itu, aku berbincang persoalan hati dengan seorang kawan. Ia mengalami permasalahan hati yang cukup rumit, ia selalu menjadi seorang ‘sephia’. Jika kamu generasi 90an sejati pasti tahu lagu yang berjudul ‘sephia’ yang dipopulerkan oleh Sheila On 7. Lagu tersebut menceritakan tentang seseorang yang menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan, menjadi kekasih kedua tentunya.
Aku sedih melihatnya selalu menjadi yang kedua. Tak pernah ia menjadi yang pertama. Sungguh menyedihkan tetapi ia terus bertahan meski ia telah dibohongi oleh kekasihnya bahkan tetap menyayanginya meskipun ia tahu telah menjadi yang kedua. Apakah itu pertanda sebuah ketulusan atau kegoblokan?
Hatinya pasti teriris perih tetapi mungkin tak sebegitu perih karena sudah berkali-kali merasakan menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan. Rasa cinta yang begitu besar ternyata bisa mematikan logika, semuanya terjadi di luar nalar manusia normal. Menanggapinya aku hanya bisa berkata padanya ‘kamu goblok!’ memang terdengar sangat jahat tetapi itu memang adanya. Hal yang sama menyedihkannya ketika seorang kawan tersebut menanggapi cerita hatiku dan ia pun berkata ‘kamu tolol!’. Dua sahabat yang bernasib buruk, seorang goblok dan seorang tolol. Complitely. Aku jadi sulit membedakan yang mana ketulusan dan yang mana ketololan. Tolol dan goblok sama saja.
Ketika kita menyayangi seseorang dengan berdalih tulus sehingga mengalahkan ego diri sendiri untuk membahagiakan orang lain, demi melihatnya tersenyum setiap hari, dan menyelamatkan hubungan agar tiada pertengkaran itu apakah bisa dikatakan sebuah ketulusan? Semakin lama ketulusan semakin terasa ganjil dan terdengar gamang di telinga. How about sincerity, guys? Jadi tulus itu apa? Bagaimana?
Karakterku yang tak mau ambil pusing ketika ada masalah dengan cara mengalah. Siapapun yang salah, baik aku, kamu, dia, mereka ataupun orang lain lebih baik aku mengalah, meminta maaf, dan mengakui kesalahan agar suasana kembali menjadi kembali baik seperti semula. Apa enaknya berada dalam suasana panas akan amarah dan ego satu sama lain? Itu keadaan yang sangat aku benci. Apakah hal itu bisa dikatakan juga sebuah ketulusan? Atau kegoblokan?
Ketika tahu bahwa dirinya dicurangi atau dibohongi tetapi hanya diam saja dan tidak bergerak hanya untuk menghindari sebuah perpisahan, apakah benar jika merasa tulus menyayangi seseorang harus tetap bertahan dengan keadaan seperti itu? Entah, semakin tidak bisa menjawab mengenai definisi sebuah ketulusan.
Dendam, bagiku hal yang sangat buruk. Ketika hatiku mulai mati rasa terhadapa orang yang terlampau sakit menyakiti, aku lebih baik tak perlu mengenalnya lagi seumur hidupku hingga kapanpun. Dendam memang tidak disukai Tuhan, begitu pun aku tetapi bagaimana lagi jika hati terlampau sakit mau diapakan lagi?
Lupakan soal dendam jika tiada yang menyakiti. Lakukan saja yang terbaik, jika memang ada rasa sayang yang mendalam. Mungkin nanti aku dan seorang kawan tersebut bisa menemukan perbedaan tulus dan goblok. Baik atau buruknya hal yang kita lakukan memang manusia yang pintar menilai namun Tuhan yang akan membalasnya. Do your best and you’ll get the best.

Sabtu, 24 Agustus 2013

00:34

Monday, August 19, 2013

No Expectations, No Disappointments

Hanya bisa tersenyum kecil simpul. Bukan senyum yang membahagiakan bukan pula senyum yang biasanya terpasang di bibir. Like a fake smile, no matter. Sometimes as people, I must hiding a disappointment. Reality so suck and be hurt. Ouch!
Jangan berpikir hidupku sesedih itu. Hidupku segalau itu. Aku hanya mengekspresikan kekecewaanku seperti ini. Bolehkah aku kecewa? Aku pun manusia. Bisa kecewa kapan saja. Bisa kecewa karena hal apa saja. Bisa kecewa karena siapa saja. Bahkan kecewa karena hal yang tidak kita ketahui.
Jangan menggantungkan harapanmu pada manusia, begitulah yuang pernah dikatakan oleh seseorang. Sepotong kalimat itu ketika dipahami, ternyata benar. Harapan bukan untuk digantung tetapi harus diraih dan diwujudkan karena harapan pun butuh kepastian.
No expectations, no disappointments. Tidak ada keinginan, tidak ada kekecewaan. Terkadang aku terlalu takut untuk menghadapi masa depan. Keinginan, harapan dan citaku terlalu tinggi namun aku membatasinya dengan rasa pesimisku. Bukan seorang yang ambisius membuatku takut jika ekspektasiku tak tercapai.
Aku ingin seperti ini. Aku ingin seperti itu. Aku ingin dia melakukan ini. Aku ingin dia melakukan itu. Hal dangkal membuatmu terjebak dalam labirin keegoisan. Mengalahkan ego diri sendiri itu memang sulit tetapi menahan diri adalah hal yang lebih sulit.
Jadi, bersiaplah menerima keinginan yang tak selalu sejalan dengan kenyataan.

Senin, 19 Agustus 2013

17:16