Monday, April 29, 2013

Sebuah Pengakuan


A confenssion atau sebuah pengakuan. Setelah membaca trilogi Pengakuan Eks Parasit Lajang karya Ayu Utami yang merupakan sebuah autobiografi. Ia menuliskannya dengan berani, lugas dan santai tentang kehidupannya yang pernah mengalami masa-masa ‘kesedihan’ dengan menuliskan tentang sebuah pengakuan hidupnya yang pernah menjadi seorang perempuan yang ‘tidak menikah’ meskipun pada akhirnya ia menikah juga. Pengakuannya melepas keperawanan di usia 20 dan menjadi peselingkuh. Bagiku itu tindakan yang sangat berani namun Ayu tak salah langkah. Dengan melakukan sebuah pengakuan, mungkin kini hidupnya akan terasa lebih ringan. Bukan pengakuan dosa biasa yang jemaat kristiani lakukan di gereja melainkan sebuah pengakuan yang luar biasa.
Perlu keberanian untuk melakukan sebuah pengakuan. Aku akan melakukannya. Ini hanya pengakuan biasa bukan pengakuan luar biasa yang dilakukan Ayu Utami. Aku belum mempunyai tabungan keberanian yang cukup, lagi pula, siapa aku? mengapa aku harus membuat sebuah pengakuan? Tak juga ada yang peduli aku melakukan sebuah pengakuan atau tidak. Aku hanya ingin sedikit melepaskan beban dan menghela nafas panjang.
Pengakuan pertama, aku bosan bergonta-ganti kekasih. Usiaku baru berjalan menuju tahun ke 23. Namun jumlah angka mantan kekasih hampir menyaingi jumlah usiaku. Apa ini hal yang biasa atau luar biasa? Semuanya relatif. Terkadang ada rasa iri jika melihat kawan-kawan sebayaku yang sudah menemukan tambatan hatinya hingga akhirnya menikah, paling tidak jika belum menikah, mereka berpacaran lama sekali, ada yang hubungannya hingga memasuki tahun ke 8. Kawan perempuan yang sebaya dengan usiaku sudah banyak yang naik pelaminan, diantara kawan-kawan semasa SMP hanya aku yang masih bergelut di bangku kuliah. Ini tidak adil. Bukan sombong. Bukan menunjukkan bahwa aku ini disukai banyak lelaki. Dalam setahun aku bisa berganti kekasih hingga 3 kali. Itu konyol dan tolol. Aku terkadang mengasihani diriku sendiri, apa aku ini gampangan? Tentu tidak. Aku tidak suka proses panjang yang bertele-tele. Jika mau katakan ‘Ya’ jika tidak mau katakan ‘tidak’. Aku begini hanya tak ingin menjadi korban pemberian harapan palsu. Menghindar dari jeratan PHP tidak menentukan nasib hati terluka lagi atau tidak. Pada akhirnya aku terluka lagi dan lagi. Saat berpacaran 3 tahun, aku diam saja padahal sudah diselingkuhi 2 kali. Mengunggu mantan kekasih selama hampir setahun hanya untuk ‘balikan’ dan pada akhirnya kandas juga hanya karena masalah kecil, penantian bodoh. Lima bulan menjalin kasih dan akhirnya ditinggalkan karena tak tahan dengan sifat burukku, padahal sudah ada rencana menikah dan masih banyak kesakitan lainnya. Untuk kali ini, aku hanya ingin satu. Satu tapi pasti. Tak mau lagi merasakan sakit hati berulang-ulang. Bullshit. Eek banteng.
Pengakuan kedua, aku masih ingin tetap menikah muda. Dulu sejak usia 13 tahun, aku menginginkan menikah di usia 21 tahun. Namun keinginan itu kandas, kini usiaku sudah hampir 23 tahun. Di saat usiaku menginjak 20 tahun, ada lelaki yang dulu berpacaran denganku. Saat usiaku 14, dia berusia 18 tahun. Aku dengannya berhubungan resmi selama 2 tahun tapi 2 tahun lagi mengambang. Keluargaku dengannya sudah dekat sekali. Dia menginginkanku kembali tapi aku begitu dingin padanya. Dia akhirnya memliih bertunangan dengan perempuan lain namun keinginannya lain, dia ingin tetap menikah denganku. Lelaki itu memintaku menikah dengannya saat dia sudah bertunangan, dia rela melepaskan tunangannya demi aku. Aku tidak buta dan tidak kalap mata dengan materi. Meski dia sudah menjadi pria mapan, penghasilan hampir mencapai angka belasan juta tetapi aku tidak sampai hati melukai hati tunangannya. Aku menolaknya. Setelah dipikir lagi, jodoh dan lamaran itu tidak datang 2 kali! Bagaimana ini? Sudahlah, mungkin caranya harus seperti itu. Biasanya jodoh datang tanpa di duga. Pertanyaannya, mengapa aku ingin menikah muda? aku hanya ingin dilindungi dan disayangi, sebagaimana ayah dulu melindungkiku.
Pengakuan ketiga, aku ingin bisa menjadi lebih dari lelaki. Dari deretan mantan kekasihku, ada beberapa lelaki dengan title ‘cowok tajir’ atau ‘anak orang kaya’. Aku hanya kebetulan mendapatkan lelaki seperti itu. Aku tak mencari. Semua lelaki ‘tajir’ yang pernah menjadi kekasihku, semuanya taik. Mereka menganggap aku berpacaran dengannya hanya sekedar materi, mereka sering memperlakukanku seenaknya. Dari mulai anak direktur, bergonta-ganti mobil setiap bertemu hingga lelaki yang isi dompetnya tak pernah habis, kelakuakan mereka bukan hanya seperti kakus tapi seperti mulut septic tank, menyebalkan bahkan menjijikan. Tak pernah aku melihat lelaki dari segi materi. Materi hanya membuatnya gelap mata. Tidak telalu parah jika lelaki tersebut bergelimang harta karena hasil keringat sendiri tetapi mereka sombong dengan kekayaan orang tua. Ingatlah, kekayaan akan dikalahkan dengan ketulusan juga hati yang baik. Aku tak mau terus menerus dipandang rendah oleh lelaki. Yakinlah, kelak lelaki-lelaki manja yang tajir dan sombong akan jatuh dan mereka akan berada jauh dibawahku. Aku bisa jauh di atas mereka. Bukan hanya soal materi tetapi harga diri.
Malam dengan pengakuan. Semuanya semacam nafas yang tertahan dan akhirnya bisa kembali berhembus. Semuanya bermula dari sakit hati. Kali ini, tidak akan ada lagi rasa sakit. A confession can clear up drama, pain and revenges.

Senin, 29 April 2013
22:40

No comments:

Post a Comment