Sincerity. Ketulusan. Benda bernama ketulusan bukan
sembarang benda. Bagiku itu benda yang sangat harganya melebihi harga benda
pusaka sekalipun. Tak ada yang namanya pamrih. Memberi tanpa harus menerima.
Meski terdengar lemah dan bodoh, biarlah. Aku memang sedang mencari ketulusan.
Hingga kini belum aku temukan. Jikapun pernah ada, itu ketulusan palsu. It’s a fake sincerity. Untukku hal
tersebut termasuk ke dalam golongan tindakan kriminal kejiwaan. Juga perasaan.
Dunia
ini memang sudah sinting. Manusia-manusia sudah edan. Bukan hanya hidung, mata,
payudara dan kelamin yang dipalsukan bahkan manusia tega memalsukan jiwanya
sendiri. Mungkin hatinya terbuat dari betonan gagal, dengan batu bata rapuh
juga semen kualitas rendahan.
Bukan
hanya berbicara soal permasalah cinta. Ketulusan memang sangat akrab dengan cinta. Persahabatan juga perlu ketulusan. Menjalani kehidupan juga harus
bersama ketulusan juga ditemani keikhlasan. Sayangnya, otak manusia kini sudah
dipenuhi dengan hijaunya lembaran-lembaran uang yang baunya tidak sedap. Hidupnya
berloma-lomba untuk mencapai langit melebihi antariksa. Sombong sekali.
Apa
gunanya uang jika kamu ada diambang kematian? Apakah menurutmu uang bisa
mengembalikan nyawa yang telah mati? Uang hanya mematikan nyawa yang jiwanya
sudah mati. Pamrih. Uang memang bisa menguasai apapun di dunia fana ini kecuali
ketulusan.
Sudahlah.
Aku hanya kesal. Mengapa yang dipikirkan manusia di dunia hanya uang, uang,
uang, uang dan uang. Aku pun sempat kesal mengapa ketulusanku tak pernah
berbayar kembali ketulusan. Ternyata aku masih jadi bagian manusia edan. Aku
mengharapkan ketulusan yang aku berikan akan berbalik, kembali, timbal balik
atau feed back. Aku pamrih. Dulu aku
pamrih. Maunyaku ketulusan yang aku berikan kepada siapapun akan bisa berbalik
pada diri sendiri. Ternyata memang tidak. Manusia tidak sama. Tidak akan pernah
ada yang sama.
Dimanapun
aku mencari ketulusan, mungkin Tuhan akan memberikannya ketika aku sudah tidak mencarinya
lagi. Baiklah, aku tidak akan mencarinya lagi. Akan aku biarkan Tuhan mengirimkan
seseorang yang membawa ketulusan padaku yang sudah lelah mencari. Just stay for sincerity comin’ up not searching
it.
27 April 2013
00:17
No comments:
Post a Comment