Friday, April 19, 2013

Cinta dari Bumi untukmu di Surga


Menuju 11 tahun ia telah meninggalkan dunia. Meninggalkan aku, kedua saudara perempuanku juga ibuku. Bisa aku bayangkan bagaimana aku menjadi seorang yang bahagia luar biasa jika ia masih ada di sisi, menjagaku. Mungkin aku takkan terlihat buruk seperti sekarang ini.
Tuhan benar. Dahulu aku selalu kesal pada-Nya, mengapa harus ayahku yang berpulang, kenapa tidak ayah orang lain saja yang Engkau pulangkan? Kekesalan pernah memuncak. Klimaks. Pernahku menangis menjerit semalaman menangisi ketiadaan seorang ayah di sisi seorang anak perempuan yang tengah rapuh. Aku pernah berbicara sendiri, “aku mendingan nyusul papah aja kesana”. Malam itu benar putus asa juga putus harapan. Aku selalu merasa hidupku sedemikian rumit karena 1 hal, karena Tuhan mengambilnya.
Kesedihan memang wajar dirasakan bagi mereka yang ditinggalkan, apalagi tanpa kata perpisahan. Breakup always make painful. There never be sweet goodbye. Namun sebagai manusia yang sangat kecil mata-Nya, apakah kita bisa melawan kehendak-Nya? Apakah kita bisa memaki Tuhan agar mengembalikan apa yang memang milik-Nya? Jika memang kamu tetap seperti itu, niscayalah Tuhan akan membencimu. Aku tak mau dibenci Tuhan. Menerima kehidupan dengan ikhlas akan membuatku lebih hidup meski separuh hidupku sudah Ia ambil terlebih dahulu. Legowo.
Bolehkah aku membayangkan hari ini jika ayah masih ada, Tuhan? Izinkan aku membayangkan beberapa waktu saja. Aku tidak mau melawan takdir-Mu. Aku tak mau Engkau benci padaku. Baiklah, jika ayah masih ada disini, mungkin ia akan bahagia melihat anak-anak gadisnya tumbuh menjadi perempuan-perempuan dewasa. Wajah kakak perempuanku mirip sekali dengan ibu, wajah adik perempuan sangat mirip ayah dan wajahku tak mirip keduanya. Tidak apa, meski begitu aku tetap anak ayah. Anak ayah yang dulu senang sekali menyanyi dan sering kali ayah mengiringiku menyanyi dengan permainan gitarnya yang piawai. Anak ayah yang suka sekali menonton ayahnya ketika bermain sepakbola, sesekali menonton tenis. Anak ayah yang sering menangis jika ayah pulang kerja rumah masih dengan keadaan berantakan. Dan aku masih menjadi anak ayah yang teledor dan ceroboh hingga luka-luka banyak menandai tubuhku karena terjatuh, hingga kini.
Ayah pasti akan bangga jika melihatku sebentar lagi akan meraih gelar sarjana. Berdandan cantik dengan rambut panjang yang tak pernah ia bolehkan untuk dipotong pendek, memakai kebaya nan anggun juga toga sebagai tanda kelulusan sebagai mahasiswa sastra. Membayangkannya saja aku sudah hampir teriris lagi. Akan lebih terasa bahagia lagi jika aku membayangkan ayah ada ketika aku menikah. Tapi aku yakin, ayah pasti ‘hadir’ dan memelukku dengan bahagia ketika aku menikah nanti.
Hingga kapanpun, aku tetap menjadi anak ayah bukan anak dari ayah lainnya. Karena tiada ayah lain selain papah. I’ll always give much love from the earth to the heaven for you, lovely dad.

19 April 2013
22:12

No comments:

Post a Comment