Menuju
11 tahun ia telah meninggalkan dunia. Meninggalkan aku, kedua saudara
perempuanku juga ibuku. Bisa aku bayangkan bagaimana aku menjadi seorang yang
bahagia luar biasa jika ia masih ada di sisi, menjagaku. Mungkin aku takkan
terlihat buruk seperti sekarang ini.
Tuhan
benar. Dahulu aku selalu kesal pada-Nya, mengapa harus ayahku yang berpulang,
kenapa tidak ayah orang lain saja yang Engkau pulangkan? Kekesalan pernah
memuncak. Klimaks. Pernahku menangis menjerit semalaman menangisi ketiadaan
seorang ayah di sisi seorang anak perempuan yang tengah rapuh. Aku pernah
berbicara sendiri, “aku mendingan nyusul papah aja kesana”. Malam itu benar
putus asa juga putus harapan. Aku selalu merasa hidupku sedemikian rumit karena
1 hal, karena Tuhan mengambilnya.
Kesedihan
memang wajar dirasakan bagi mereka yang ditinggalkan, apalagi tanpa kata
perpisahan. Breakup always make painful.
There never be sweet goodbye. Namun sebagai manusia yang sangat kecil
mata-Nya, apakah kita bisa melawan kehendak-Nya? Apakah kita bisa memaki Tuhan
agar mengembalikan apa yang memang milik-Nya? Jika memang kamu tetap seperti
itu, niscayalah Tuhan akan membencimu. Aku tak mau dibenci Tuhan. Menerima
kehidupan dengan ikhlas akan membuatku lebih hidup meski separuh hidupku sudah
Ia ambil terlebih dahulu. Legowo.
Bolehkah
aku membayangkan hari ini jika ayah masih ada, Tuhan? Izinkan aku membayangkan
beberapa waktu saja. Aku tidak mau melawan takdir-Mu. Aku tak mau Engkau benci
padaku. Baiklah, jika ayah masih ada disini, mungkin ia akan bahagia melihat
anak-anak gadisnya tumbuh menjadi perempuan-perempuan dewasa. Wajah kakak
perempuanku mirip sekali dengan ibu, wajah adik perempuan sangat mirip ayah dan
wajahku tak mirip keduanya. Tidak apa, meski begitu aku tetap anak ayah. Anak
ayah yang dulu senang sekali menyanyi dan sering kali ayah mengiringiku
menyanyi dengan permainan gitarnya yang piawai. Anak ayah yang suka sekali
menonton ayahnya ketika bermain sepakbola, sesekali menonton tenis. Anak ayah
yang sering menangis jika ayah pulang kerja rumah masih dengan keadaan
berantakan. Dan aku masih menjadi anak ayah yang teledor dan ceroboh hingga
luka-luka banyak menandai tubuhku karena terjatuh, hingga kini.
Ayah
pasti akan bangga jika melihatku sebentar lagi akan meraih gelar sarjana.
Berdandan cantik dengan rambut panjang yang tak pernah ia bolehkan untuk
dipotong pendek, memakai kebaya nan anggun juga toga sebagai tanda kelulusan sebagai
mahasiswa sastra. Membayangkannya saja aku sudah hampir teriris lagi. Akan lebih
terasa bahagia lagi jika aku membayangkan ayah ada ketika aku menikah. Tapi aku
yakin, ayah pasti ‘hadir’ dan memelukku dengan bahagia ketika aku menikah nanti.
Hingga
kapanpun, aku tetap menjadi anak ayah bukan anak dari ayah lainnya. Karena tiada
ayah lain selain papah. I’ll always give much
love from the earth to the heaven for you, lovely dad.
19 April 2013
22:12
No comments:
Post a Comment