Jari-jari ini semakin malam
semakin liar. Liar mencari sebuah nama. Huruf demi huruf disusun hingga menjadi
satu username yang biasanya aku lihat
setiap hari. Pupil mata membesar ketika melihat deretan kolom-kolom rangkaian
kata yang selalu diiisinya setiap hari. Seketika hidung kecil ini seakan
berhenti menemukan oksigen, terhenyap. “Oh… ternyata…hhmmm…baiklah”.
“Tindakan bodoh juga menyedihkan”
hati berkata seperti itu, otakku juga. Jari-jari liar itu tidak mau berhenti
dan tidak menuruti kemauan otak yang tidak ingin sakit lagi jika setiap hari
harus mengintip. Jari-jari mulai liar dan sulit dikendalikan. Rasanya otak
ingin menjerat jari-jari dan memborgolnya. Otak juga lelah tapi yang lebih
lelah itu hati.
My fingers are the best of stalker. The stalker sejati tidak akan pernah meng-exit akunnya dan akan selalu tergantung pada paket internet atau
dengan gencar mencari wifi. Memilih provider anti lemot agar bisa mengintip
seseorang yang ada dipikirannya setiap detik. Setiap habis mengintip, dia akan
tersenyum sendiri jika ternyata status manis seseorang lain itu ternyata untuk
dirinya padahal belum tentu. Begitupun kebalikannya, jika seseorang lain itu
meng-update sesuatu yang berbau menyedihkan,
dia akan langsung merasa bersalah “jangan-jangan tweet dia itu buat gue”.
Predikat The Stalker tidak memandang usia, gender, kelas sosial atau apapun.
The stalker bisa disandang oleh
siapapun yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, jari-jarinya lincah juga
liar dan bersedia menghambiskan waktunya hanya untuk mencari tahu apa yang
sedang dilakukan seseorang lain yang berdiam nyaman dipikiran seorang stalker. Tak ada salahnya memang menjadi
seorang stalker, hanya saja hatinya
memerlukan aplikasi double power
atapun mungkin million power. Sudah
tahu rasanya sakit tetapi masih sengaja menyakiti hati sendiri semacam bunuh
diri.
Selasa, 19 Maret 2013
23:04
No comments:
Post a Comment