Thursday, March 21, 2013

The Stalker


Jari-jari ini semakin malam semakin liar. Liar mencari sebuah nama. Huruf demi huruf disusun hingga menjadi satu username yang biasanya aku lihat setiap hari. Pupil mata membesar ketika melihat deretan kolom-kolom rangkaian kata yang selalu diiisinya setiap hari. Seketika hidung kecil ini seakan berhenti menemukan oksigen, terhenyap. “Oh… ternyata…hhmmm…baiklah”.
“Tindakan bodoh juga menyedihkan” hati berkata seperti itu, otakku juga. Jari-jari liar itu tidak mau berhenti dan tidak menuruti kemauan otak yang tidak ingin sakit lagi jika setiap hari harus mengintip. Jari-jari mulai liar dan sulit dikendalikan. Rasanya otak ingin menjerat jari-jari dan memborgolnya. Otak juga lelah tapi yang lebih lelah itu hati.
My fingers are the best of stalker. The stalker sejati tidak akan pernah meng-exit akunnya dan akan selalu tergantung pada paket internet atau dengan gencar mencari wifi. Memilih provider anti lemot agar bisa mengintip seseorang yang ada dipikirannya setiap detik. Setiap habis mengintip, dia akan tersenyum sendiri jika ternyata status manis seseorang lain itu ternyata untuk dirinya padahal belum tentu. Begitupun kebalikannya, jika seseorang lain itu meng-update sesuatu yang berbau menyedihkan, dia akan langsung merasa bersalah “jangan-jangan tweet dia itu buat gue”.
Predikat The Stalker tidak memandang usia, gender, kelas sosial atau apapun. The stalker bisa disandang oleh siapapun yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, jari-jarinya lincah juga liar dan bersedia menghambiskan waktunya hanya untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan seseorang lain yang berdiam nyaman dipikiran seorang stalker. Tak ada salahnya memang menjadi seorang stalker, hanya saja hatinya memerlukan aplikasi double power atapun mungkin million power. Sudah tahu rasanya sakit tetapi masih sengaja menyakiti hati sendiri semacam bunuh diri.

Selasa, 19 Maret 2013
23:04 

No comments:

Post a Comment