Memang, ada beberapa ranting yang
patah tadi sore. Dipatahkan. Ini jawaban dari Tuhan dari doanya semalam. Pohon
ini tidak bisa lagi merasakan angin yang selalu menggerakan daun-daun rapuhnya.
Kini, tidak ada ranting tidak pula ada daun.
Hembusan angin-angin itu memang
tidak begitu baik bagiku. Angin telah pergi meninggalkan pohon tanpa daun dan
ranting itu sendirian. Angin tak suka. Ia lebih baik menghembuskan kekuatannya
pada pohon-pohon kecil di halaman rumah yang cantik bukan menghembuskannya pada
pohon di hutan dengan akar yang kuat namun tak beranting, rapuh.
Pohon, perbanyaklah tersenyum pada
bayangmu di genangan air sana. Pohon berkata pada dirinya sendiri, “aku memang
tidak merasa menjadi seorang baik namun seberapa pantas aku bisa menjadi apa
yang diinginkannya. Merubah sesuatu yang sudah ada, aku tak begitu suka. Aneh dan
rasanya tidak baik untukku. Aku tumbuh di hutan, akarku kuat tapi angin, kamu
mematahkan rantingku yang sudah rapuh dan selalu mengugurkan daun-daunku.
Pergilah angin, lebih baik aku seperti dulu, sendirian di hutan tapi aku bisa
menumbuhkan daundaunn lagi agar aku cantik”.
Entah apa yang dirasakan angin
saat mengetahui pohon sedang berbicara pada genangan air. Angin mengehmbuskan
kekuatannya pada pohon. Hembusan sangat kencang hingga ranting dan daun-daunnya
kembali berguguran. Sebelum pergi, angin berbicara pada pohon rapuh itu, “Lebih
baik aku mencari pohon-pohon kecil dengan akar yang tidak terlalu kuat namun
tidak rapuh, mereka bisa aku hembuskan kapan saja tanpa mengeluh seperti kamu
pohon rapuh”.
Angin pergi tanpa memedulikan
pohon rapuh itu. Tanpa menoleh bahkan saling merangkul seperti dulu pun tidak.
Ia benar-benar pergi. Tidak peduli dengan ranting yang telah dipatahkannya. Hanya
ada elang yang sesekali menghampiri pohon untuk sekedar menemaninya agar tidak
selalu sendiri.
Jumat, 1 Maret 2013
00:52
No comments:
Post a Comment