Friday, March 1, 2013

Analogi Pohon dan Angin


Memang, ada beberapa ranting yang patah tadi sore. Dipatahkan. Ini jawaban dari Tuhan dari doanya semalam. Pohon ini tidak bisa lagi merasakan angin yang selalu menggerakan daun-daun rapuhnya. Kini, tidak ada ranting tidak pula ada daun.
Hembusan angin-angin itu memang tidak begitu baik bagiku. Angin telah pergi meninggalkan pohon tanpa daun dan ranting itu sendirian. Angin tak suka. Ia lebih baik menghembuskan kekuatannya pada pohon-pohon kecil di halaman rumah yang cantik bukan menghembuskannya pada pohon di hutan dengan akar yang kuat namun tak beranting, rapuh.
Pohon, perbanyaklah tersenyum pada bayangmu di genangan air sana. Pohon berkata pada dirinya sendiri, “aku memang tidak merasa menjadi seorang baik namun seberapa pantas aku bisa menjadi apa yang diinginkannya. Merubah sesuatu yang sudah ada, aku tak begitu suka. Aneh dan rasanya tidak baik untukku. Aku tumbuh di hutan, akarku kuat tapi angin, kamu mematahkan rantingku yang sudah rapuh dan selalu mengugurkan daun-daunku. Pergilah angin, lebih baik aku seperti dulu, sendirian di hutan tapi aku bisa menumbuhkan daundaunn lagi agar aku cantik”.
Entah apa yang dirasakan angin saat mengetahui pohon sedang berbicara pada genangan air. Angin mengehmbuskan kekuatannya pada pohon. Hembusan sangat kencang hingga ranting dan daun-daunnya kembali berguguran. Sebelum pergi, angin berbicara pada pohon rapuh itu, “Lebih baik aku mencari pohon-pohon kecil dengan akar yang tidak terlalu kuat namun tidak rapuh, mereka bisa aku hembuskan kapan saja tanpa mengeluh seperti kamu pohon rapuh”.
Angin pergi tanpa memedulikan pohon rapuh itu. Tanpa menoleh bahkan saling merangkul seperti dulu pun tidak. Ia benar-benar pergi. Tidak peduli dengan ranting yang telah dipatahkannya. Hanya ada elang yang sesekali menghampiri pohon untuk sekedar menemaninya agar tidak selalu sendiri.

Jumat, 1 Maret 2013
00:52

No comments:

Post a Comment