Wednesday, April 10, 2013

Mencari Isi yang Hilang


Asap-asap mulai mengepul lagi, tidak terbawa angin dan hanya berdiam pada kepalaku yang entah isinya bersembunyi atau bahkan hilang. Rambutku pun seperti biasa, kusam dan tak tersisir. Mata tertuju pada televisi. Telinga juga. Namun entah isi kepalaku berlari kemana. Berlari-lari di pikiran seorang yang absurd.
Tak lagi aku melanjutkan batang kedua. Paru-paruku membekap mulutku. Ia tak bisa nafas katanya. Baiklah, aku lanjutkan lagi mencari isi pikiranku yang pergi entah kemana. Mata terpejam sebentar. Serpihan pikiranku ada yang kembali, bayangan mengenai dua tahun kemarin. Bayangan seorang teman yang hilang. Bukan hilang karena meninggalkan dunia. Ia hanya terlalu sibuk dengan urusannya yang dangkal, urusan cinta. Kekasihnya cemburu berat padaku.
Pejaman mata kedua kalinya, terbayang masa-masa sekolah dulu. Dimana pikiranku masih bersih belum terkontaminasi, hati ku juga. Rasanya ingin juga kembali ke masa-masa itu. Tidak seperti sekarang, ibaratnya kini terlalu banyak minum kopi hitam dibandingkan ice chocolate. Setidaknya ice chocolate itu meski pahit tapi tetap enak diminum.
Untuk pejaman ketiga, yang aku temukan hari kemarin. Dimana aku bertemu bertemu dengan seseorang lain. Aku bisa membaca jelas apa yang ada di dalam pikirannya meski ia tidak berkata. Jelas dan nyata. Aku hanya bisa terbangun dari pejaman ketiga dengan senyum simpul seakan semua akan kembali baik-baik saja.

10 April 2013
21:55

Tuesday, April 9, 2013

Jatuh Pakai Hati

Seharusnya aku sudah bisa melihat, aku bisa mendengar dan aku bisa mengerti. Aku ternyata masih buta, tuli dan bodoh. Sejak awalpun harusnya aku bisa lebih pintar menghindari apa yang ada di depan mata, bukan meraba, merasakan atau bahkan menelanjangi masalah yang datang. Jika perlu, aku bisa saja memukuli kesal pada diriku sendiri.
Masih mudah jatuh terlalu dalam dan seharusnya aku bisa berlari agar tidak jatuh lagi atau mungkin jika perlu aku merangkak saja, yang penting aku tidak jatuh, jatuh pakai hati. Katanya, aku selalu begitu dan takkan berubah. Aku menyangkalnya dan dengan percaya diri aku menghadapi semuanya dengan hati yang keras dan otak yang lembek. Ternyata dia benar, aku akan seperti ini lagi. Dan selalu seperti ini entah hingga kapan. Jatuh lagi terlalu dalam. Jatuh pakai hati.
                Seseorang datang. Entah apa yang dia bawa. Jelas aku tak pernah menuntut materi, sedikitpun tidak pernah. Ketulusan yang aku perlukan. Ketulusan yang aku inginkan. Ketulusan yang aku butuhkan. Bukan materi, janji, seksualitas atau bahkan kesenangan belaka yang hanya berdasarkan ‘just for fun’. Aku bukan wahana permainan yang hanya bisa kau datangi untuk mencari tantangan dan kesenangan belaka. Aku manusia. Aku perempuan.
                Takut jika memang aku benar jatuh pakai hati pada seseorang itu. Benar-benar penuh ketakutan. Aku bisa melihatnya dengan mata telanjang jika seseorang itu belum membawa ketulusan. Jujur saja, entah sudah berapa belas kali aku jatuh hati, bukan jatuh pakai hati seperti ini.

9 April 2013
21:44

Friday, April 5, 2013

Bersama Engkau dan Semesta


Rasanya bosan menulis di atas tempat tidur atau di atas sofa empuk. Mungkin sesekali jari-jariku ingin menulis saat berada di pinggir pantai, puncak gunung, tepi danau atau mungkin di atas lautan. Rasanya seperti apa? Belum bisa aku bayangkan, Tuhan. Menulis di antara semesta indah-Mu.
Menulis tentang apapun, tentang yang dangkal seperti cinta atau yang berat seperti angan-anganpun akan terasa lebih bernyawa jika aku aku menulisnya ketika aku berada di atas puncak Himalaya atau sedang menikmati aurora di kutub selatan.
Biarkan aku memberi jarak yang dekat dengan semeseta-Mu agar aku bisa menikmati apa yang telah Engkau ciptakan untuk anak manusia seperti aku.

5 April 2013
23:19

Tuesday, April 2, 2013

Bertemu Dunia


Hari nanti, jika aku bisa terlepas dari beban untuk meraih satu gelar, aku ingin sekali kembali kesana, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Entah, aku begitu menginginkan bisa datang kembali kesana bukan bersama segerombolan teman atau bersama seseorang, aku ingin sendiri.
Mungkin butuh beberapa hari untuk mencari duniaku yang baru, ya baru. Aku ingin menaiki kereta malam sendiri. Menikmati perjalanan sendiri. Mencari ketenangan sendiri. Meninggalkan semuanya untuk sendiri. Bukan karena aku seorang egois yang tak pernah membutuhkan seseorang lain, tetapi satu waktu aku perlu menikmati sisa-sisa hidupku yang entah kapan akan berakhir itu sendiri. Saat mati pun akan sendiri.  
Banyak kota-kota yang ingin aku singgahi, sudah aku bayangkan bagaimana betapa sulitnya berpergian sendiri, bagaimana menghadapi rasa takut sendiri dan bagaimana mengatasi rasa sakit sendiri. Jujur saja, fisikku lemah mentalku kuat. Memang berlebihan, hatiku tak boleh sakit karena fisikku yang akan menanggung bebannya. Mentalku? Jangan bertanya lagi, aku sudah tahan mental sejak taman kanak-kanak, di saat semua anak diantar ayah bunda mereka saat acara piknik, aku tidak. Aku sendiri. Tidak pernah takut akan bahaya apapun, entah diculik orang asing atau terserempet saat menyebrang, aku tak pernah takut. Payahnya, aku hanya takut pada makhluk halus. Itu saja.
Semua yang aku raih selama hidup di duniaku yang dulu, tidak akan aku tinggalkan. Aku hanya akan memindahkannya ke suatu tempat, bersama hidupku yang baru. Jika setelah aku mengitari Jawa Tengah dan Jogjakarta, mungkin aku akan menetap di salah satu daerah di kota tersebut. Aku tidak ingin hidup dengan kekayaan berlimpah hingga duniaku mencapai langit, aku hanya ingin mencari duniaku yang baru dengan kebahagiaan yang baru.
Apakah kamu pernah merasa bosan hidup di dunia? Solusinya tentu bukan mati. Mati dengan mencabut nyawa diri sendiri itu hanya berlaku untuk seorang pecundang. Aku memang merasa bosan hidup di duniaku yang lama ini, dunia yang menjemukan. Duniaku yang baru sudah memanggilku. Duniaku yang sesungguhnya tengah menungguku dalam penantian panjang. Tunggulah, sebentar lagi aku datang untukmu, sendiri.

2 April 2013
22:33

Sunday, March 31, 2013

1 Lelaki 2 Perempuan


Dari balik kaca jendela mobil yang basah menyisakan tetesan hujan yang dingin juga gelap, ada dua anak perempuan dan satu lelaki separuh baya. Satu lelaki separuh baya menyetir dengan pikiran yang kalut dan kosong. Permasalahannya terlalu banyak namun ia masih bisa tersenyum sambil menghisap tembakau yang selalu menyala setiap waktu.
Satu perempuan cantik duduk dengan anggun disebelahnya. Ia begitu cantik dibalut dengan gaun berwarna hijau alpukat muda. Ia selalu cantik memakai warna apapun, entah merah muda, kelabu, kuning keemasan atau warna lainnya. Ia tetap dan akan selalu cantik. Siapapun yang melihatnya akan tersenyum melihat sosok perempuan ini.
Di belakangnya, ada satu perempuan dengan penampilan yang biasa saja, riasan yang biasa saja, sepatu yang biasa saja, tas yang biasa saja juga basah kuyup. Rambutnya kusut belum disisir. Ia menata rambut lusuhnya dengan membentuk bulatan kecil agar tak terlihat semakin lusuh.
Hampir setiap waktu satu lelaki paruh baya dan dua anak perempuan mengitari jalanan kota hingga larut malam dan pagi menjelang. Mereka mempunya hari-hari yang tak sama dengan setiap hari yang dijalaninya. Meski mereka pergi bersama pulang bersama dan berbeda arah juga dengan tujuan yang berbeda. Hidup yang berbeda. Cara mereka mencari dunia juga berbeda.
Mereka membentuk suatu satu yang bernama, keluarga.

31 Maret 2013
21:15

Wednesday, March 27, 2013

Dialog Pendek dengan Angin


Berbicara pada malam. Kemudian berdialog dengan angin, “Angin, aku ingin bercerita tetapi kamu jangan bicarakan ini pada siapapun ya” angin masih diam, hanya berjalan mondar-mandir. “Begini angin, beberapa minggu ini, mungkin 26 hari yang lalu aku mulai bangkit, bukan bangkit dari kubur” “Begitu mudahnya aku bangkit dari jatuh kali ini, ternyata jatuhnya tidak dalam, hanya jatuh biasa” Angin tetap membisu dalam temaram.
“Boleh aku bicara lagi? aku juga bahagia, teman-temanku yang dulu pernah hilang sudah kembali lagi. Dulu aku membuat benteng besar, melebihi benteng takeshi tapi benteng yang akubuat dulu sudah aku hancurkan lagi” Angin mulai berhembus, tidak kencang.
“Satu lagi, mataku dan mata hatiku sudah bisa membedakan antara kejujuran, kebohongan dan kepura-puraan. Dulu aku melihatnya semu dan seperti membayang, nampak buram. Kini perlahan semuanya mulai terlihat. Mataku mengupas kejujuran dan mata hatiku menelanjangi kebohongan dan kepura-puraan. Sungguh, terkadang mereka bertiga tiada beda” Angin menyelimutiku malam ini juga memelukku erat.

27 Maret 2013
21:49 

Monday, March 25, 2013

Cerita Hujan dan Perempuan-Perempuan


Siang ini aku sedang menunggu seorang teman di sebuah mall untuk menemaninya berbelanja. Siang ini juga langit sedang dituruni hujan cukup deras, membuat rambutku yang tadinya bergelombang berubah menjadi basah dan berantakan tak karuan.
Aku menunggunya di sebuah restoran cepat saji. Duduk diantara perempuan-perempuan cantik, juga seksi. Paha mereka mulus tanpa bulu bak kaki meja. Meski dada mereka kecil bahkan rata namun mata-mata pria cukup merasa tergoda untuk meliriknya karena kerah baju mereka yang lumayan membuka lebar seakan melamba-lambai setiap mata yang melihatnya. Sungguh. Belum lagi riasan wajah yang menempel di wajahnya, mungkin sinden pasti akan kalah dan minder jika melihat mereka.
Bukan hanya persoalan dada, paha dan riasan. Rambut mereka juga berwarna-warni. Ada yang blonde seperti perempeuan Inggris, coklat muda, coklat terang, coklat tua dan berbagai macam kecoklatan lainnya. Seperti melihat carnaval. Warna-warni.
Aku merasa minder. Aku duduk sendiri di pojokan menghadap ke arah perempuan-perempuan berkawat gigi itu. Aku merasa paling hitam juga kumal. Mereka tertawa-tawa renyah, entah membicarakan apa adan siapa, aku tak kenal. Tentu saja, karena aku pun tak mengenal mereka. “Goblooookkk hahhaha” begitulah yang mereka bicakan. Asap rokok semakin mengepul. Untung saja aku sudah bersahabat dengan asap itu, aku membiarkannya dan tetap terdiam di pojokkan. Masih minder. Hitam dan kumal.
Dan masih hujan. Badanku sedang tidak bersahabat dengan cuaca minggu ini. Badanku mulai mengigil lagi. Jika melihat ranjang dan selimut bulu angsa rasanya ingin tak sadarkan diri sejenak. Aku ingin tertidur pulas seperti semalam. Semalam bermimpi kamu.

Senin, 25 maret 2013
14:10