Monday, April 15, 2013

Me Time


Suatu sore di ujung senja, cuaca mulai menunjukkan ketidakbersahabatannya lagi denganku tapi entah bagi orang-orang di luar sana yang menginginkan turunnya air langit. Seperti biasa, aku menikmati me time ke-ratusan kalinya dengan menyenangkan. Duduk sendiri di pojokan sebuah café atau di restoran cepat saji dengan menggunakan kaos hitam belel dan rok panjang batik bernuansa ungu hijau sambil menyantap segelas kopi, coklat, susu atau minuman lainnya. Tidak dalam rangka apapun, hanya bosan berada di rumah juga mencari suasana tenang untuk merampungkan laporan yang harus segera tutup buku.
Berada di lantai dua dan mata melihat keseluruh jalanan yang bising juga berdebu sendirian. Bagiku, me time selalu menyenangkan kapan pun dan dimana pun. Mungkin diri ini sedang tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun. Apakah orang-orang di luar sana pernah ataukah sering melakukan hal yang sama denganku atau bahkan menganggap me time sebagai hal konyol bagi keledai? Tak perlu peduli dengan apapun yang orang lain katakan. Jalani hidup sendiri pun belum tentu akan terlihat benar dan baik, apalagi jika masih sering mengurusi kehidupan orang lain. Hanya buang-buang waktu. Waktuku akan lebih berharga untuk memahami kehidupanku sendiri daripada menanggapi omong kosong mereka yang merasa hebat padahal hanya angka nol besar.
            Me time bukan hanya duduk sendirian di sudut café atau sekedar melahap makan siang sendirian tetapi bagiku ada 1 hal yang bisa aku pikirkan untuk menemukan jawaban sebelum pertanyaan itu datang. Beberapa pertanyaan memang belum ada di hadapan tetapi aku sudah bisa memperkirakan jawaban-jawaban itu. Semacam mencuri finish sebelum menginjak start.

15 April 2013
16:32

Sunday, April 14, 2013

Pertanda Baik Untuk Ketulusan


Kedutan mata kiri artinya apa sih? Itu artinya kamu akan mendapatkan kesenangan hari ini. Semoga pertanda baik. Percaya atau tidak, kedutan tadi memang pertanda baik dan aku mengalaminya hari ini. Belum pula ada yang mengucapkan selamat hari ini, tanggal 13. Selamat tanggal 13 untukku dan dia. Untuk kita.
Semalam, obrolan-obrolan hangat terdengar semakin sayup. Suara ikan dalam kolam bernafaspun tidak terdengar. Aku duduk di balik pintu, dia pula. Saat itu, aku ingin melihat matanya lebih dalam lagi. Namun matanya entah tertuju kemana. Setiap rangkaian kata sederhana yang keluar dari mulut manisnya aku dengarkan. Terasa lembut. Aku tersenyum sipu sendiri.
Seketika, ada yang lain. Matanya meneduh, dia tertenduk dan memejamkan mata sebentar. Mungkin 3 detik. Entah apa yang ada dibalik matanya. Dia terlihat teramat sedih. Akupun sempat tertegun melihatnya. Seperti ada rasa sakit yang ia sembunyikan. Pilu. Aku mau, kehadiranku untuknya bisa menjadi jembatan menuju setitik, sejalan hingga jutaan jalan menuju satu ruang bernama bahagia.
Aku masih ingin mengetahui apa yang ada di balik matanya. Tak mau jika ia harus menelan pilu sendiri. Aku dengan dirinya seperti berjalan di atas jalan rapuh yang sama tanpa penunjuk arah, hanya ada beberapa rambu. Jika bersama dalam satu jalan yang rapuh, kemungkinannya akan saling memberi dan menerima tanpa pamrih. Jika memang benar adanya, itulah yang bernama ketulusan.

14 April 2013
01:19

Thursday, April 11, 2013

Kalut


Sembunyi hanya untuk seorang keledai. Aku bukan keledai, aku hanya menghilang sebentar. Rasanya hari ini aku tak mau berkomunikasi dengan siapapun dan bertemu siapapun. Ingin berdiam sendiri. Pikiranku kalut lagi.
Mungkin dirinya akan menganggapku aneh. Freak. Terserahlah, aku memang seperti ini. Selalu menghilang sekejap jika sedang penat. Ada satu ketenangan ketika aku sendirian dan berdialog sendiri. Apa kamu pernah melakukan hal yang sama denganku? Jika iya, aku senang, aku mempunyai teman yang sama anehnya denganku. Kita cocok.
        Terdapat banyak jawaban ketika aku berdialog sendiri dan sendirian. Akal sehatku bisa memberikan beberapa tanda apa yang harus aku lakukan ketika aku sudah terlanjur menelanjangi setiap masalah yang ada di hadapan, di samping bahkan di belakangku. Terbiasa berpikir memakai hati dan merasakan memakai otak itu tidak bagus. Dengan berdialog sendiri, keduanya akan seimbang. Aku merasakan itu dengan nyata.
            Sayangnya, tidak semua orang bisa dengan mudah menerima keanehan yang aku miliki. Mereka menganggap itu hal bodoh dan tolol. Wasting time. Menurutku, ini waktu yang berharga. Aku bisa mengoreksi setiap jawaban pada permasalahan hidup yang kamu hadapi. Tak lagi pernah aku dengar apa kata mereka. Aku nyaman.
Aku yakin, setiap anak manusia memiliki keanehannya sendiri, apapun itu dan jika ada seseorang yang menerima bahkan menyukai keanehanmu, maka cintailah dia.

11 April 2013
18:42

Wednesday, April 10, 2013

Mencari Isi yang Hilang


Asap-asap mulai mengepul lagi, tidak terbawa angin dan hanya berdiam pada kepalaku yang entah isinya bersembunyi atau bahkan hilang. Rambutku pun seperti biasa, kusam dan tak tersisir. Mata tertuju pada televisi. Telinga juga. Namun entah isi kepalaku berlari kemana. Berlari-lari di pikiran seorang yang absurd.
Tak lagi aku melanjutkan batang kedua. Paru-paruku membekap mulutku. Ia tak bisa nafas katanya. Baiklah, aku lanjutkan lagi mencari isi pikiranku yang pergi entah kemana. Mata terpejam sebentar. Serpihan pikiranku ada yang kembali, bayangan mengenai dua tahun kemarin. Bayangan seorang teman yang hilang. Bukan hilang karena meninggalkan dunia. Ia hanya terlalu sibuk dengan urusannya yang dangkal, urusan cinta. Kekasihnya cemburu berat padaku.
Pejaman mata kedua kalinya, terbayang masa-masa sekolah dulu. Dimana pikiranku masih bersih belum terkontaminasi, hati ku juga. Rasanya ingin juga kembali ke masa-masa itu. Tidak seperti sekarang, ibaratnya kini terlalu banyak minum kopi hitam dibandingkan ice chocolate. Setidaknya ice chocolate itu meski pahit tapi tetap enak diminum.
Untuk pejaman ketiga, yang aku temukan hari kemarin. Dimana aku bertemu bertemu dengan seseorang lain. Aku bisa membaca jelas apa yang ada di dalam pikirannya meski ia tidak berkata. Jelas dan nyata. Aku hanya bisa terbangun dari pejaman ketiga dengan senyum simpul seakan semua akan kembali baik-baik saja.

10 April 2013
21:55

Tuesday, April 9, 2013

Jatuh Pakai Hati

Seharusnya aku sudah bisa melihat, aku bisa mendengar dan aku bisa mengerti. Aku ternyata masih buta, tuli dan bodoh. Sejak awalpun harusnya aku bisa lebih pintar menghindari apa yang ada di depan mata, bukan meraba, merasakan atau bahkan menelanjangi masalah yang datang. Jika perlu, aku bisa saja memukuli kesal pada diriku sendiri.
Masih mudah jatuh terlalu dalam dan seharusnya aku bisa berlari agar tidak jatuh lagi atau mungkin jika perlu aku merangkak saja, yang penting aku tidak jatuh, jatuh pakai hati. Katanya, aku selalu begitu dan takkan berubah. Aku menyangkalnya dan dengan percaya diri aku menghadapi semuanya dengan hati yang keras dan otak yang lembek. Ternyata dia benar, aku akan seperti ini lagi. Dan selalu seperti ini entah hingga kapan. Jatuh lagi terlalu dalam. Jatuh pakai hati.
                Seseorang datang. Entah apa yang dia bawa. Jelas aku tak pernah menuntut materi, sedikitpun tidak pernah. Ketulusan yang aku perlukan. Ketulusan yang aku inginkan. Ketulusan yang aku butuhkan. Bukan materi, janji, seksualitas atau bahkan kesenangan belaka yang hanya berdasarkan ‘just for fun’. Aku bukan wahana permainan yang hanya bisa kau datangi untuk mencari tantangan dan kesenangan belaka. Aku manusia. Aku perempuan.
                Takut jika memang aku benar jatuh pakai hati pada seseorang itu. Benar-benar penuh ketakutan. Aku bisa melihatnya dengan mata telanjang jika seseorang itu belum membawa ketulusan. Jujur saja, entah sudah berapa belas kali aku jatuh hati, bukan jatuh pakai hati seperti ini.

9 April 2013
21:44

Friday, April 5, 2013

Bersama Engkau dan Semesta


Rasanya bosan menulis di atas tempat tidur atau di atas sofa empuk. Mungkin sesekali jari-jariku ingin menulis saat berada di pinggir pantai, puncak gunung, tepi danau atau mungkin di atas lautan. Rasanya seperti apa? Belum bisa aku bayangkan, Tuhan. Menulis di antara semesta indah-Mu.
Menulis tentang apapun, tentang yang dangkal seperti cinta atau yang berat seperti angan-anganpun akan terasa lebih bernyawa jika aku aku menulisnya ketika aku berada di atas puncak Himalaya atau sedang menikmati aurora di kutub selatan.
Biarkan aku memberi jarak yang dekat dengan semeseta-Mu agar aku bisa menikmati apa yang telah Engkau ciptakan untuk anak manusia seperti aku.

5 April 2013
23:19

Tuesday, April 2, 2013

Bertemu Dunia


Hari nanti, jika aku bisa terlepas dari beban untuk meraih satu gelar, aku ingin sekali kembali kesana, Jawa Tengah dan Jogjakarta. Entah, aku begitu menginginkan bisa datang kembali kesana bukan bersama segerombolan teman atau bersama seseorang, aku ingin sendiri.
Mungkin butuh beberapa hari untuk mencari duniaku yang baru, ya baru. Aku ingin menaiki kereta malam sendiri. Menikmati perjalanan sendiri. Mencari ketenangan sendiri. Meninggalkan semuanya untuk sendiri. Bukan karena aku seorang egois yang tak pernah membutuhkan seseorang lain, tetapi satu waktu aku perlu menikmati sisa-sisa hidupku yang entah kapan akan berakhir itu sendiri. Saat mati pun akan sendiri.  
Banyak kota-kota yang ingin aku singgahi, sudah aku bayangkan bagaimana betapa sulitnya berpergian sendiri, bagaimana menghadapi rasa takut sendiri dan bagaimana mengatasi rasa sakit sendiri. Jujur saja, fisikku lemah mentalku kuat. Memang berlebihan, hatiku tak boleh sakit karena fisikku yang akan menanggung bebannya. Mentalku? Jangan bertanya lagi, aku sudah tahan mental sejak taman kanak-kanak, di saat semua anak diantar ayah bunda mereka saat acara piknik, aku tidak. Aku sendiri. Tidak pernah takut akan bahaya apapun, entah diculik orang asing atau terserempet saat menyebrang, aku tak pernah takut. Payahnya, aku hanya takut pada makhluk halus. Itu saja.
Semua yang aku raih selama hidup di duniaku yang dulu, tidak akan aku tinggalkan. Aku hanya akan memindahkannya ke suatu tempat, bersama hidupku yang baru. Jika setelah aku mengitari Jawa Tengah dan Jogjakarta, mungkin aku akan menetap di salah satu daerah di kota tersebut. Aku tidak ingin hidup dengan kekayaan berlimpah hingga duniaku mencapai langit, aku hanya ingin mencari duniaku yang baru dengan kebahagiaan yang baru.
Apakah kamu pernah merasa bosan hidup di dunia? Solusinya tentu bukan mati. Mati dengan mencabut nyawa diri sendiri itu hanya berlaku untuk seorang pecundang. Aku memang merasa bosan hidup di duniaku yang lama ini, dunia yang menjemukan. Duniaku yang baru sudah memanggilku. Duniaku yang sesungguhnya tengah menungguku dalam penantian panjang. Tunggulah, sebentar lagi aku datang untukmu, sendiri.

2 April 2013
22:33