Pernahkah kamu menahan air di pelupuk matamu? Menangisi semua
penyesalan yang sudah terjadi. Menangisi hidup yang tiada henti menaruhmu
berada di bawah putaran. Menangisi keadaan yang tak sesuai dengan yang kau
inginkan. Mungkin jika melihatnya dari sebelah mata, akan merasa jika manusia
yang melakukan hal seperti itu bukan manusia yang pandai bersyukur. Namun
bagiku itu manusiawi, sadar akan kodrat sebagai manusia yang tidak bisa
mengendalikan apapun yang terjadi. Manusia tidak mempunyai kuasa untuk mengatur
hidup orang lain atau bahkan mengatur kehidupan diri sendiri. Manusia merasa
memiliki kuasa jika mereka merasa hebat dan bergelimpangan materi, itu kuasa
yang ingin menyaingi Tuhan. Tuhan tak pernah menyukai manusia seperti itu.
Harta manusia hanya titik yang tak berarti bagi-Nya.
Rabu ini detak jantungku kembali tidak beraturan lagi.
Rasanya sakit sekali, nafasku tersendat-sendat. Entah mengapa beberapa bulan terakhir ini mulai terasa lagi, rasanya sakit hingga jemari lagi. Nampak berlebihan namun jika kau
merasakannya, kau akan berkata hal yang sama denganku.
Pelupuk mata tak bisa lagi menahan air. Segera aku diam selama beberapa lama di kamar mandi. Aku menangis. Lagi. Memang
dangkal menangisi persoalan mengenai cinta. Cengeng. Bukan hanya persoalan
cinta tetapi menangisi betapa beratnya menepati janji yang dibuat oleh diri
sendiri dan mengapa aku mengingkarinya begitu mudah. Terlalu banyak pertanyaan
dalam hidup yang tak bisa kau temukan dengan mudah bahkan tak akan pernah ada
jawabannya.
Jika kau merasa hidupmu sangat berat, lihatlah orang-orang
yang tak seberuntung hidupmu. Kebutuhan sandang pangan papanmu terpenuhi, hang
out bersama-teman tertawa sana sini, atau mungkin berkendaraan mewah hingga tak
perlu kehujanan dan kepanasan. Kau masih berpikir hidupmu berat? Salah besar.
Aku terkadang berpikir jika masalahku sangat berat tetapi masih banyak di luar sana yang
menginginkan hidupmu. Apa kau masih ingin menjadi orang lain? Menginginkan
hidup orang lain? Aku tak pernah mau menginginkan hidup orang lain, aku hanya
ingin diberi jalan dan kemudahan untuk berkehidupan lebih baik dan menemukan
setiap jawaban dari segala pertanyaan dalam berkehidupan.
Aku membutuhkan teman bicara. Teman bicara siapapun orangnya yang
bisa memahami semua ceritaku tanpa harus mengeritiki masalah apa yang aku hadapi.
Aku membutuhkan bahu. Bahu siapapun yang bisa mengerti semua masalahku tanpa
memandangnya dari sudut mata sebelah kiri.
13
Juni 2013
22:51
No comments:
Post a Comment