Hari itu, hujan turun deras. Langit begitu muram. Aku
menunggunya di bawah payung yang ditetesi oleh air langit. Basah kuyup. Secangkir
teh manis hangat menyambut kedatangannya yang telah lama hilang. Bertahun-tahun
tak pernah ada kabar darinya, hingga pada tahun ke-6 di bulan Maret 2013 aku
kembali bertemu dengannya, saling bertegur sapa lagi dan kembali saling
mengejek. Keesokannya, ia menemaniku seharian untuk mengerjakan skripsiku,
menemaniku seharian di perpustakaan hingga mencari bahan-bahan untuk kajian
teori. Pertemuan 3 bulan yang lalu, mungkin
adalah isyarat Tuhan.
Kami memiliki passion
yang sama. Menulis, membaca dan menonton. Aku dengannya saling mengagumi karya
kami masing-masing. Dia nampaknya senang membaca tulisan-tulisanku di blog, ia
mengatakan bahwa tulisanku menggunakan diksi yang tepat dan terasah. Ia juga
pernah mengatakan ingin belajar menulis padaku. Aku pun menyukai
tulisan-tulisannya. Ia pengagum semeseta sejati. Pecinta semesta. Selain itu, kami sesama pecinta karya-karya
Dewi Lestari. Madre merupakan film
terakhir yang kami saksikan. Namun, kami belum sempat saling bertukar pikiran
dan menulis bersama. Tuhan tak memberikan waktu yang lebih lama untuknya.
Dunia memang belum berhenti berputar. Bumipun masih berotasi.
Namun kehidupanya kini telah berhenti di dunia. Ia kini sedang berjalan menuju
kehidupannya yang baru. Sebuah pertemuan tidak akan pernah sia-sia. Kehadiran
seseorang dalam setiap insan manusia dalam kehidupannya selalu memberikan satu
atau bahkan jutaan makna bagi satu kehidupan. Begitupun kehadiran seorang teman
bernama Lukman Firmansyah pasti meningalkan makna kepada setiap orang yang
pernah mengenalnya.
Seorang Lukman Firmansyah adalah teman diskusi yang baik dan
cerdas. Pengetahuannya luas dan serba tahu sehingga siapapun yang berbicara
dengannya pasti akan merasa seperti berjalan di satu arah yang sama dengannya.
Good night and bye. Satu kalimat yang awalnya
membuatku sedikit bingung dan kesal. Ia mengirimkan pesan itu 3 hari yang lalu.
Aku pernah berbicara dalam hati, apakah ia tak ingin berbicara denganku lagi?
mengapa dia mengucapkan selamat malam dan selamat tinggal? Dan inilah
jawabannya. Ia benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.
“Detik detik berlalu dalam
hidupku perlahan tapi pasti menuju mati, terkadang rasa takut menyelinap hati
dimana jalan hidup terisi kesia-sian. Dalam hening aku diam penuh pertanyaan
besar, dengan apa ku isi detik ku ini” –
Lukman Firmansyah
Kehidupan manusia memang tidak akan pernah ada yang abadi
namun sebuah tulisan akan tetap abadi bersama nama pengarangnya. You was said, " Life for love" and now, your life give much love for our life. Selamat jalan.
Terimakasih. Semoga tenang dikehidupan yang sebenarnya, Jon!
Sabtu,
22 Juni 2013
13:58


No comments:
Post a Comment