Saturday, June 22, 2013

Jawaban Sebuah Isyarat

Hari itu, hujan turun deras. Langit begitu muram. Aku menunggunya di bawah payung yang ditetesi oleh air langit. Basah kuyup. Secangkir teh manis hangat menyambut kedatangannya yang telah lama hilang. Bertahun-tahun tak pernah ada kabar darinya, hingga pada tahun ke-6 di bulan Maret 2013 aku kembali bertemu dengannya, saling bertegur sapa lagi dan kembali saling mengejek. Keesokannya, ia menemaniku seharian untuk mengerjakan skripsiku, menemaniku seharian di perpustakaan hingga mencari bahan-bahan untuk kajian teori.  Pertemuan 3 bulan yang lalu, mungkin adalah isyarat Tuhan.
Kami memiliki passion yang sama. Menulis, membaca dan menonton. Aku dengannya saling mengagumi karya kami masing-masing. Dia nampaknya senang membaca tulisan-tulisanku di blog, ia mengatakan bahwa tulisanku menggunakan diksi yang tepat dan terasah. Ia juga pernah mengatakan ingin belajar menulis padaku. Aku pun menyukai tulisan-tulisannya. Ia pengagum semeseta sejati. Pecinta semesta.  Selain itu, kami sesama pecinta karya-karya Dewi Lestari. Madre merupakan film terakhir yang kami saksikan. Namun, kami belum sempat saling bertukar pikiran dan menulis bersama. Tuhan tak memberikan waktu yang lebih lama untuknya.
Dunia memang belum berhenti berputar. Bumipun masih berotasi. Namun kehidupanya kini telah berhenti di dunia. Ia kini sedang berjalan menuju kehidupannya yang baru. Sebuah pertemuan tidak akan pernah sia-sia. Kehadiran seseorang dalam setiap insan manusia dalam kehidupannya selalu memberikan satu atau bahkan jutaan makna bagi satu kehidupan. Begitupun kehadiran seorang teman bernama Lukman Firmansyah pasti meningalkan makna kepada setiap orang yang pernah mengenalnya.
Seorang Lukman Firmansyah adalah teman diskusi yang baik dan cerdas. Pengetahuannya luas dan serba tahu sehingga siapapun yang berbicara dengannya pasti akan merasa seperti berjalan di satu arah yang sama dengannya.
Good night and bye. Satu kalimat yang awalnya membuatku sedikit bingung dan kesal. Ia mengirimkan pesan itu 3 hari yang lalu. Aku pernah berbicara dalam hati, apakah ia tak ingin berbicara denganku lagi? mengapa dia mengucapkan selamat malam dan selamat tinggal? Dan inilah jawabannya. Ia benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.

Detik detik berlalu dalam hidupku perlahan tapi pasti menuju mati, terkadang rasa takut menyelinap hati dimana jalan hidup terisi kesia-sian. Dalam hening aku diam penuh pertanyaan besar, dengan apa ku isi detik ku ini – Lukman Firmansyah

Kehidupan manusia memang tidak akan pernah ada yang abadi namun sebuah tulisan akan tetap abadi bersama nama pengarangnya. You was said, " Life for love" and now, your life give much love for our life. Selamat jalan. Terimakasih. Semoga tenang dikehidupan yang sebenarnya, Jon!




Sabtu, 22 Juni 2013
13:58



No comments:

Post a Comment