Thursday, November 21, 2013

Penggemar Rahasia Barata


Sekilas matanya saja yang Risa lihat hari ini. Tidak ada tatapan balik apalagi sapaan dan semua terjadi berulang seperti pada setiap harinya. Jangan harapkan apalagi memikirkan soal sentuhan. Risa menjadi seorang penggemar rahasia seorang lelaki. Bukan hanya penggemar rahasia tetapi ia penggemar berat yang sangat merahasiakan kegemarannya menggemari lelaki bernama Barata.
Jangan salah kaprah berbicara soal penggemar berat. Barata bukan seorang aktor, penyanyi, atau pemain band, Barata hanya lelaki kantoran biasa. Wajahnya pun tidak begitu rupawan bak pemain biola Iskandar Widjaja, kebaikannya pun tidak seperti seorang ustad atau pastor, kekayaannya masih kalah jauh dengan kekayaan keluarga cendana, dan dia bukan lelaki yang suka melucu seperti Tukul Arwana. Barata hanya lelaki biasa tetapi Risa begitu menyukai lelaki berdarah Sunda-Batak tersebut.
Mata Barata tak pernah lari dari monitor komputernya, hanya terfokus pada satu objek sedangkan mata Risa berkeliaran mencari celah di antara pekerjaannya untuk sekedar melihat dan berharap Barata membalas tatapannya. Meskipun hanya 1 kali dan 1 detik saja pun tak apa.
Semua mulut di gedung lantai 17 terkadang membicarakan soal Barata. “Barata itu gak pernah ngomong ya?” “Barata itu bisu” “Minta dia bicara aja pelit banget, apalagi minta dibayarin” “Barata itu gay” “lelaki itu bukan gay tapi anti-sosial” dan masih banyak lagi kalimat-kalimat cibiran yang Risa dengar setiap harinya. Risa tak menanggapinya dengan serius. Bagaimana pun Barata, Risa tetap suka Barata.
Risa memerhatikan setiap pola tingkah laku yang dilakukan Barata. Ia melihat lelaki itu setiap 1 jam sekali meninggalkan meja kerjanya dan berlalu meninggalkan ruangan. Risa tak pernah tahu kemana perginya lelaki itu. Risa hanya berpikir mungkin Barata ke toilet atau ke pantry untuk sekedar buang air atau membuat kopi. Tetapi Risa dihantui rasa penasaran, ia menguntit Barata yang meninggalkan ruangan. Dengan perlahan tanpa suara ia menginjak anak tangga pintu darurat. “Hah? Pintu darurat? Ini si Barata mau ngapain sih?” Risa mengumpat dalam hati.
Barata membuka pintu darurat lantai 18, Risa berada di bawah beberapa anak tangga yang Barata pijak. Risa mengernyitkan dahi karena silaunya pancaran matahari pukul 11 siang. Risa berusaha bersembunyi agar tidak terlihat oleh lelaki pendiam itu. Barata tidak menutup pintu dan ia berlalu menuju ujung atap gedung yang lapang. Perempuan penguntit itu mengintip Barata, ia ingin mengetahui apa yang dilakukan lelaki yang membuatnya tergila-gila.
Tak ada yang berarti. Barata hanya membakar gulungan tembakaunya saja. Satu jam cukup satu batang. Jadi jika dikalkulasikan 9 jam bekerja ia menghabiskan 9 batang rokok. Bukan 9 tetapi 10, sepulang kerja Barata kembali naik ke atap gedung. Risa merasa pendapatkan reward. Ia merasa diberi hadiah poin undian telah mengetahui kebiasaan yang dilakukan Barata. Tidak satu jam sekali. Mungkin 3 jam sekali Risa kembali menguntit Barata dan berdecak kagum dengan pipi memerah melihat punggung Barata setiap hari. Entah apa yang dikagumi Risa dari seorang perokok berat. Pokoknya Risa mengagumi apa pun yang dilakukan Barata.
Rasa Risa pada Barata setiap harinya semakin melambung jauh. Risa bukan hanya seorang penggemar berat Barata tetapi Risa mulai mencintai Barata. Mencintainya diam-diam. Sebelum tidur, Risa tak pernah lupa berdoa dan pillow talk dengan Tuhan. Ia menceritakannya dalam hati di setiap menit sebelum tidur.
Tuhan, mata kan diciptakan untuk melihat. Mengapa ia tak pernah melihatku? Apakah ia mengetahui keberadaanku? Tolonglah Tuhan alihkan matanya padaku sekali saja. Aku ingin ia tahu bahwa aku menggemari tatapan matanya yang telah Engkau ciptakan.
Tuhan, tubuh berbau tembakaunya mulai aku cium hari ini, tadi dia melintas di hadapanku tapi ia sama sekali tak menatap mataku, matanya tertuju pada secangkir kopi hitam yang sudah dibuatnya. Wangi tubuh yang bercampur dengan bau tembakau itu terasa melekat di hidungku. Jangan campuri hidungku dengan bau yang lain.
Tuhan, aku ingin menemaninya menghambiskan bakaran tembakau. Bukan saja menemani. Tetapi aku ingin bersama-sama membakar dan menghabiskan tembakau di sore hari. Biarkan tubuhku ikut pula menjadi bau tembakau seperti tubuhnya.
Tuhan, apakah ia benar bisu? Mengapa ia jarang sekali bicara? Aku hanya mendengar sedikit kata dari mulutnya. Bisakah membuat mulutnya mengeluarkan beberapa kata untukku. Berkata apa saja. Jika bisa, berkata sesuatu yang manis dan menggelitik.
Satu lagi Tuhan, Boleh kah? Begini, apakah dia menginginkan seorang teman bicara? Jika ingin, aku bersedia menjadi teman bicaranya. Lalu, apakah dia ingin mempunyai seorang teman yang selalu bersedia menyediakan pundaknya untuk bersandar? Jika ingin, aku akan dengan senang hati memberikan pundakku untuk sandarannya di kala lelah. Kemudian, apakah dia ingin mempunyai seorang teman untuk menemaninya hidup. Jika ingin, tentu saja aku sangat ingin menjadi teman hidupnya. Cukup Tuhan, itu saja yang ingin aku ceritakan malam ini.
Mata Risa masih saja berkeliaran berusaha untuk menangkap tatapan balik barata tapi usahanya tak pernah berhasil. Pukul 5 sore, Barata kembali keluar ruangan. Risa baru menguntitnya 2 kali hari ini. Barata hari ini menggunakan kemeja berwarna navy, secara kebetulan Risa menggunakan blazer berwarna senada dengan Barata.
Risa mengitipnya sedikit dam tersenyum simpul karena Barata mengenakan warna baju yang sama dengannya. Tanpa bisa ditebak, Barata menoleh ke belakang dan menangkap mata Risa yang sedang menatap seluruh tubuh Barata. Risa terkaget karena Barat datang menghampirinya. Perempuan berambut panjang itu gugup bukan main dan mematung tak bisa bicara ketika Barata menatap matanya dan berkata “Naiklah!” sambil mengulurkan tangannya pada Risa.
Jangan salahkan sunset di langit Jakarta yang terhalangi tingginya gedung, ia memang tak seindah sunset di laut lepas tetapi bagi Risa Sunset sore itu mengalahkan sunset di seluruh penjuru dunia.
“Mau menemaniku merokok?” Barata menawarkan beberapa batang rokok mild merek ternama pada Risa.
“Kenapa menawariku rokok? Lancang kamu!” Risa mengambil satu batang rokok sambil tersenyum genit.
“Warna bibirmu tak bisa berbohong, Risa! Bibirmu terlampau menghitam tapi lipstik merahmu cukup membantu” Risa terkaget mengdengar ucapannya dan membiarkan jari Barata menyalakan pemetik api untuk tembakau yang berada di tepi bibir Risa.
“Dan wangi parfum mahalku terkalahkan oleh wangi tembakau murah” mereka berdua tertawa renyah.
“Jangan menguntitku seperti itu lagi, jika kamu ingin menemaniku merokok, naiklah! Atau mungkin kamu butuh teman bicara, bicaralah Risa!” Barata menatap mata Risa begitu dalam. Risa terpaku. Risa terpukau.
“Barata, jika kamu ingin bersandar karena lelah. Pundakku akan menerimamu dengan senang hati”
Barata bukan hanya sekedar bersandar tetapi ia menatap mata Risa, mata Barata mulai berair dan tubuh besar Barata jatuh memeluk tubuh kecil Risa.
“Risa…aku lelah. Aku letih. Aku ingin berhenti menjadi seorang bisu yang sulit bicara. Aku ingin bicara, aku ingin berteman, aku ingin menjadi manusia seperti kamu yang mempunyai banyak teman, bisa berbicara dengan semua orang, bisa berbicara apa saja dengan temanmu-temanmu. Aku ingin ……………..” Barata benar-benar menceritakan seluruh keluh kesahnya pada Risa dan Risa hanya diam. Diam membatu tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa membalaskan pelukan tubuh besar Barata.
Tangisan Barata berakhir ketika tembakau yang mereka bakar telah habis menjadi abu. Pelukan itu berakhir ketika matahari bergantian tempat dengan bulan.
“Risa, terimakasih untuk semua doamu setiap malam pada Tuhan. Tuhan tidak mungkin jika tidak mendengar doamu, Ia hanya menyimpannya dan mengabulkannya di waktu yang tepat. Risa, separuh doamu sudah terwujud. Jika ada sisa doamu yang belum terwujud. Mungkin bisa terwujud esok, lusa, minggu depan, bulan depan atau kapanpun. Percayalah, Tuhan tidak pernah tidur”

Rabu, 13 November 2013
23:13

No comments:

Post a Comment