Mengintip awan dari celah jendela.
Sedikit ia intip, ia bukan seorang yang empunya nyali besar melihat luasnya
atap semesta. Biar orang berkata apa, ia tak pernah peduli, seorang pecundang
yang tak siap melihat nyatanya kenyataan. Dirinya tahu langit Tuhan begitu
terhampar luas. Umpama debu yang mudah dihempas, ia merasa terhempas. Aku ingin
memapahnya menjalani jalan berkelok, bukan jalan yang lurus, jalan lurus hanya
untuk pecundang yang membosankan. Membawanya pada dunia fana dan mengantarkan
dirinya pulang pada riuh sorak bahagia. Abaikan saja gunjingan dan tawaan
mereka yang tak miliki impian, keinginan mereka hanya menjadi hartawan saja
yang ketika mati pun harta tidak akan menjadikannya sebagai ahli surga. Hidup
di dunia bukan hanya soal rupiah. Rupiah hanya genggaman pasir yang bisa
didapatkan dan mudah terlepas. Apa artinya hidup bila mimpi masih berada dalam
lelapnya tidur?
Nobody can’t stop her dream. No one can’t stop my dream.
Rabu, 2 Oktober 2013
22:25
No comments:
Post a Comment