Selasa siang itu, aku berbincang
persoalan hati dengan seorang kawan. Ia mengalami permasalahan hati yang cukup
rumit, ia selalu menjadi seorang ‘sephia’. Jika kamu generasi 90an sejati pasti
tahu lagu yang berjudul ‘sephia’ yang dipopulerkan oleh Sheila On 7. Lagu
tersebut menceritakan tentang seseorang yang menjadi orang ketiga dalam suatu
hubungan, menjadi kekasih kedua tentunya.
Aku sedih melihatnya selalu
menjadi yang kedua. Tak pernah ia menjadi yang pertama. Sungguh menyedihkan
tetapi ia terus bertahan meski ia telah dibohongi oleh kekasihnya bahkan tetap
menyayanginya meskipun ia tahu telah menjadi yang kedua. Apakah itu pertanda
sebuah ketulusan atau kegoblokan?
Hatinya pasti teriris perih tetapi
mungkin tak sebegitu perih karena sudah berkali-kali merasakan menjadi orang
ketiga dalam suatu hubungan. Rasa cinta yang begitu besar ternyata bisa
mematikan logika, semuanya terjadi di luar nalar manusia normal. Menanggapinya
aku hanya bisa berkata padanya ‘kamu goblok!’ memang terdengar sangat jahat
tetapi itu memang adanya. Hal yang sama menyedihkannya ketika seorang kawan
tersebut menanggapi cerita hatiku dan ia pun berkata ‘kamu tolol!’. Dua sahabat
yang bernasib buruk, seorang goblok dan seorang tolol. Complitely. Aku jadi sulit membedakan yang mana ketulusan dan yang
mana ketololan. Tolol dan goblok sama saja.
Ketika kita menyayangi seseorang
dengan berdalih tulus sehingga mengalahkan ego diri sendiri untuk membahagiakan
orang lain, demi melihatnya tersenyum setiap hari, dan menyelamatkan hubungan
agar tiada pertengkaran itu apakah bisa dikatakan sebuah ketulusan? Semakin
lama ketulusan semakin terasa ganjil dan terdengar gamang di telinga. How about sincerity, guys? Jadi tulus
itu apa? Bagaimana?
Karakterku yang tak mau ambil
pusing ketika ada masalah dengan cara mengalah. Siapapun yang salah, baik aku,
kamu, dia, mereka ataupun orang lain lebih baik aku mengalah, meminta maaf, dan
mengakui kesalahan agar suasana kembali menjadi kembali baik seperti semula.
Apa enaknya berada dalam suasana panas akan amarah dan ego satu sama lain? Itu
keadaan yang sangat aku benci. Apakah hal itu bisa dikatakan juga sebuah
ketulusan? Atau kegoblokan?
Ketika tahu bahwa dirinya
dicurangi atau dibohongi tetapi hanya diam saja dan tidak bergerak hanya untuk
menghindari sebuah perpisahan, apakah benar jika merasa tulus menyayangi
seseorang harus tetap bertahan dengan keadaan seperti itu? Entah, semakin tidak
bisa menjawab mengenai definisi sebuah ketulusan.
Dendam, bagiku hal yang sangat
buruk. Ketika hatiku mulai mati rasa terhadapa orang yang terlampau sakit
menyakiti, aku lebih baik tak perlu mengenalnya lagi seumur hidupku hingga
kapanpun. Dendam memang tidak disukai Tuhan, begitu pun aku tetapi bagaimana
lagi jika hati terlampau sakit mau diapakan lagi?
Lupakan soal dendam jika tiada
yang menyakiti. Lakukan saja yang terbaik, jika memang ada rasa sayang yang
mendalam. Mungkin nanti aku dan seorang kawan tersebut bisa menemukan perbedaan
tulus dan goblok. Baik atau buruknya hal yang kita lakukan memang manusia yang
pintar menilai namun Tuhan yang akan membalasnya. Do your best and you’ll get the best.
Sabtu, 24 Agustus 2013
00:34
No comments:
Post a Comment