Katanya, “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, apa
kamu setuju dengan itu? Aku sebagai anak manusia juga sebagai makhluk ciptaan
Engkau yang Maha Esa berada di bumi ini, berpijak di atas tanah-Mu ini juga
menyewa raga yang Engkau pinjamkan dengan bayaran yang sesungguhnya mudah untuk
melakukannya namun memang manusia terkadang lupa bersyukur dengan apa yang
telah didapatkanya, ibadah.
Saat aku sedang dalam kandungan ibuku, aku dengan-Nya seakan
bernegosiasi dengan kehidupanku yang akan datang namun Tuhan tetap menentukan
perjalanan yang akan aku jalani. Tuhan sangat baik padaku, apapun yang aku
pinta pasti Tuhan akan mengabulkannya namun Tuhan tentu tahu kapan waktu yang
tepat untuk Ia berikan padaku.
Tanah yang menjadi pijakan kakiku saat ini juga milik-Mu,
Tuhan. Raga yang aku sewa ini sedang aku bayar cicilannya dengan ibadah namun
terkadang perilakuku selalu melakukan hal lain diluar cicilan membayar sewa
raga-Mu. Tak perlu aku sebutkan sebanyak apa perlilaku burukku yang mengingkari
perjanjianku dengan-Mu saatku dalam kandungan. Terkadang Engkau marah padaku
dan menyentilku sedikit. Aku sadar Engkau sedang kesal padaku namun ya
begitulah manusia, aku pura-pura tak merasakannya padahal sudah banyak sesuatu
yang Engkau ambil dariku.
Sentilan-Mu padaku ternyata berulang-ulang Engkau lakukan.
Bukan hanya 1 sesuatu yang berharga hilang dari kehidupanku bhkan 2, 3, 4 dan
masih ada yang lainnya. Aku segera tersadar, aku menyerah dan aku tak berdaya
sebagai anak manusia. Aku merasa gagal menjadi makhluk-Mu. Aku ingin selalu ada
dijalan-Mu dan terhindar dari segala apapun yang akan menjerumuskanku di
kehidupan yang abadi nanti karena ibadah yang aku lakukan tak mencukupi biaya
sewa raga yang Engkau pinjamkan dulu.
Jumat,
15 Febriari 2013
15:33
No comments:
Post a Comment