Wednesday, May 24, 2017

Bandung dan Bagian Hati yang Lain

“Dan Bandung bukan hanya membuatmu jatuh hati, sering kali menjadikanmu seseorang yang patah hati”
pic: pinterest
“Cepat pulang ya, aku sendirian di sini. Aku bosan” Begitu katanya. Ia menyedorkan segelas teh hangat kesukaanku saat aku dating dan saat aku akan kembali ke Jakarta di Senin dini hari. Ah, perempuan itu selalu membuatku ingin kembali.
Bandung bukan hanya sebagai bijanaku, namun Bandung adalah bagian hatiku yang lain. Sejauh apa pun kamu pergi, kamu akan tetap rindu pulang dan membutuhkan rumah. Romantisme Jakarta di Jumat ketiga meredakan segala amarahku padanya, namun hanya sebentar. Aku membutuhkan pulang.
Hari itu, di Jumat ketiga di bulan Desember yang hujan. Aroma tanah basah seakan menyambutku datang. Seorang perempuan berambut sebahu dan bermata indah itu pasti sudah menantiku. Biasanya secangkir teh hangat akan menyambutku ketika pulang. Senyum terpancar di rona pipinya sudah aku bayangkan seharian.
Sebuah peluk menjadi candu sedari dulu dan belaian hangat yang tak akan tergantikan. Senyum simpul ketika aku membuka pintu dan yang dirindu pun tidak ada di tempat biasanya. Kemana ia pergi? Ku cari setiap sudut ruang yang dinamakan rumah, ternyata tidak ada. Tak ku temukan pula sebuah memo yang biasa ia catat setiap hari Jumat. Jangan berpikir bahwa ada secangkir teh hangat yang biasanya tersedia di kamarku.
Aku yang kelelahan tetap berusahan mencarinya, ini sudah lebih dari tengah malam. Di mana keberadaan tempat aku pulang? Sayangnya, ia hanya di sini sendirian, salahnya aku terlalu berjarak dengannya. Aku kebingungan dan aku kelelahan.
pic: pinterest
 “Aa, maaf saya tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Saya yakin, kamu bisa lebih berlapang dada menerima kenyataan.
Aa, saya taruh teh oolong kesukaanmu yang selalu saya buatkan setiap Jumat tengah malam di toples kaca di sudut dapur. Kamu bisa buat tehnya sendiri kan?
Aa, selalu ingat Allah di hatimu, jaga diri baik-baik, jangan kebanyakan makan gorengan, minum air putih yang banyak, dan kembalilah pada istri juga anak-anakmu.”
Begitu barisan kata yang Lidya tulis dalam secarik kertas. Hatiku patah. Aku harus mencari Lidya. Namun, aku harus mencarinya ke mana? Dia sendirian di kota ini. Mataku basah, air mukaku yang lelah semakin larut dalam kesedihan.
Sabtu pagi mataku terbangun dengan rasa yang hampa dan penuh kepedihan. Oh Lidya, aku harus mencarimu ke mana? Sebentar….Ini bukan rumah Lidya. Suasana serba kayu mendominasi rumah Lidya, namun sekarang aku berada di sebuah ruangan serba putih. Aku merasa hilang.
“Theresa? Jaden? Andra?” Ali menatap seorang perempuan dan dua anak laki-laki, ia berlari dan memeluk erat ketiganya.
“Aa, kamu sudah di rumah dan satu tahun ini kamu berada di Bandung, kamu tidak kemana-mana, begitu pun aku dan anak-anak” Ucap Theresa.
Theresa, perempuan itu sudah tidak menangis lagi, air matanya seakan mengering. Ia tersenyum.
 “Terkadang ia menjadi Ali, terkadang ia menjadi Lidya, hal ini terjadi karena ia mengalami trauma yang sangat mendalam akibat ditinggalkan oleh adiknya, Lidya. Ali ingin menghidupkan Lidya kembali dalam kehidupannya. Hal ini mungkin terjadi karena Lidya dan Ali hidup dan berjuang berdua setelah kedua orang tuanya meninggal saat mereka remaja. Ali sudah seperti malaikat penjaganya.
Semenjak Lidya hilang setahun yang lalu ketika Ali bekerja di Jakarta dan keberadaanya kini tak tahu ada di mana. Ali depresi, merasa bersalah, Ali kehilangan tenaga dan habis pikiran untuk mencari Lidya. Hingga suatu hari aku menemukannya berdandan seperti Lidya, memakai lipstick, rok, bahkan memakai bra milikku sambil minum segelas teh oolong kesukaan adiknya, dan berbicara sendiri seolah sedang berbicara berdua dengan Lidya.
Hatiku hancur, aku kehabisan kata, namun setahun ini begitu berat. Tak apa, Ali sudah kembali. Lidya benar-benar pergi, aku harap ia tak lagi kembali. Aku menganggapmu sudah tidak ada.”

Wednesday, March 22, 2017

Romantisme Jakarta

Do not fallin in love with people like me, i will take you to museums , parks, and monuments, and kiss you in every beautiful place” – Caitlyn Shiels


Pernah ada seseorang yang memintaku untuk mendekatkan jarak agar bisa selalu bertemunya kapan pun. Kami dulu pernah saling mengharapkan dan menginginkan, tapi sekarang sudah tidak. Aku terlanjur memberanikan diri untuk terjun tanpa tahu risiko apa yang terjadi jika aku terjatuh, namun aku tetap bertahan disini. Bukan karena dia, dia sudah pergi, tetapi aku tetap bertahan disini untuk diriku sendiri.

Namanya Garwani Indra Prasta. Orang-orang memanggilnya Gani. Mereka sering menyebutkan bahwa Gani adalah seorang yang menyebalkan. Tentu itu benar adanya. Dulu, Gani adalah seorang yang menyenangkan. Kami berdua jarang bertemu, namun setiap kali bertemu, kami selalu menghabiskan waktu dengan cara yang sederhana.

Aku ingat jelas, kami menghabiskan sisa malam di lapangan basket dengan lampu sorot sayup dan kami berdua bermain basket bersama, saling bercerita dan menertawakan masa lalu kami masing-masing atau sekadar berjalan-jalan ke museum, bertukar ilmu mengenai hal yang kita ketahui.

Menunggunya di stasiun, lalu mengantarnya pulang kembali ke kota kami masing-masing atau kebalikannya. Siang hingga menjelang malam, kami hanya berada di stasiun, dia menemaniku hingga kereta malam menepati jadwalnya untuk mengantarkanku pulang.

Bahwa sepuah peluk di stasiun atau di bandara adalah sebuah pesan awal kerinduan. Tak lupa kecupan yang mendarat di kening. Seakan menjadi drama singkat yang bebas dinikmati oleh pengunjung dan petugas setempat. Jarak adalah musuh bagiku dan Gani. Namun, berkat jarak, cinta berpihak.

Suatu Sabtu, beberapa hari setelah aku mendekatkan jarak dengannya, ia memintaku bertemu di Museum Nasional. Aku melihat punggungnya di sana. Aku tahu itu Gani, lalu ia membalikan tubuh tegapnya perlahan tanpa senyuman yang tergambar di wajahnya.

“Gani….”
“Kita gak bisa sama-sama lagi, Ta”
“Maksud kamu?”
“Aku sadar, ternyata selama ini aku gak cinta sama kamu”
“Semudah itu, Gan? Kamu gak mikirin perasaan aku? Aku ini kurang apa? Aku harus gimana biar kamu cinta sama aku?”
“Cinta gak bisa dipaksain, Ta. Kasian kamu kalau harus ngejalanin tanpa cinta”

Rasanya aku ingin mengambil tombak, rencong, atau kujang yang ada di museum ini, lalu menancapkannya di dada pria ini. Tanpa pikir lagi, aku pergi meninggalkannya dengan hati yang sudah kamu tahu seperti apa rasanya diperlakukan seperti aku ini adalah penghuni tunggal ruang hatinya lalu dijatuhkan dengan sejatuh-jatuhnya dengan alasan konyol dan tidak masuk akal.

Katanya, cinta itu memang tak ada logika, tapi tak ada cinta lo gila. Persoalan biasa yang sesungguhnya biasa terjadi pula pada mereka yang setidaknya pernah dimabuk asmara.

Malam beganti pagi dengan hitungan ratusan hari yang tak terhitung. Stasiun Sudirman pukul 5 sore masih terjejal penuh oleh penumpang naik dan turun. Jakarta membuat orang menjadi seorang yang egois, aku senagaja tidak memasuki gerbong khusus wanita, karena aku lelah dan kesempatannya sangat kecil untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Setidaknya di gerbong umum, pria akan sedikit mengalah.

Gerbong terlalu padat, untuk bergerak mengambil handphone di dalam tas pun tidak bisa. Mulut ketemu mulut. Pantat ketemu pantat. Saat commuter berhenti di stasiun Tebet, beberapa orang keluar dan seorang pria masuk ke gerbong, tepat berdiri di hadapanku, Gani. Pria ini muncul lagi.

Kami saling menatap, semuanya terasa kaku. Wajahku dan wajahnya hanya berjarak sejengkal jari. Jika commuter ini ngerem mendadak, maka bibirnya bisa mendarat di bibirku. Tak ada kata yang terucap di antara kami, meski kami saling berhadapan dan tidak bisa bergerak apalagi berpindah ke tempat lain. Selintas Gani masih seperti dulu, bahunya masih bidang dan tegap, beserta dengan kumis tipisnya masih menjaga ketampanannya. Oh…tidak. Ini membahayakan dan menyebalkan.

Commuter berhenti di stasiun Duren Kalibata, aku dengan tergesa-gesa turun berharap Gani tak menemukan tubuhku.
“Ananta”
Tubuhku terpaku.
Membeku.
Suara itu.
Jangan membalikan badan, Ta.
Jangan.
“Kamu banyak berubah, rambutmu yang panjang kamu pangkas habis menyerupai rambutku. Ta, I learn from my mistakes and try to become better. But, humans make mistakes and humans can change
“Maksud kamu?” aku masih tak mau membalikkan badan.
“Ta…”
Aku tak tahan. Akhirnya aku membalikkan badan dan melihatnya sudah berada dekat di belakangku.
“Ta…akhirnya Tuhan masih memanjangkan tangan-Nya untuk kita. Aku berbohong padamu. Dulu aku memutuskan hubungan kita dengan alasan aku gak cinta sama kamu itu bohong. Aku cinta kamu, Ta. Tapi saat itu keadaanya berbeda, aku gak lagi seperti dulu”
“……..”
“Ta…aku gak bisa lagi main basket tengah malam sama kamu, aku gak bisa lagi lama-lama menemani kamu di stasiun atau di bandara, dan aku gak bisa lagi menemani kamu museum tour”
“Apa perlu aku tanya kenapa?”

Mataku berlarian, menghindari matanya coklat mudanya. Sebentar, aku melihat bayanganku di pantulan kaca pintu gerbong commuter, namun tidak ada pantulan tubuh Gani. Dalam beberapa detik, commuter melaju. Aku berdiri di tepian peron dan terpaku seakan bibirku tak bergerak. Membeku. Perlahan aku coba menatap Gani. Sialnya, Gani menghilang, tanpa aku melihat punggungnya pergi.
Telepon ku bordering, Alia meneleponku.
“Halo” Sahutku.
“Ta, Gani udah gak ada. Gani kecelakaan”

Wednesday, April 6, 2016

When 'Me' Becomes 'We'



When love feels like magic, you call it destiny. When destiny has a sense of humor, you call it serendipity.” – Serendipity, 2001.



Menikah. Bukan hanya menghalalkan yang tadinya tidak halal. Menikah adalah memulai fase kehidupan yang sangat jauh berbeda dari keseharian seorang lajang, apalagi bagi yang terbiasa hidup bergantung pada orang tua. 

Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang biasa dihadapi seorang perempuan lajang dengan kehidupan yang bebas, tidak bergantung pada orang tua, tidak ada yang memprotes ketika pulang subuh, nongkrong sana-sini, atau trip berhari-hari sampai gak pulang-pulang ke Bandung, berubah drastis ketika ia memutuskan untuk menikah.

Bagiku, menikah adalah menjadi sebuah team work, bukan hanya workshop, papa work mama shop, artinya sebuah tim yang hanya beranggotakan dua orang tersebut harus melengkapi dan membantu tugas satu sama lain. Belajar mandiri dengan melakukan segala hal berdua. 

Apa yang utama dari kehidupan setelah menikah? materi bisa dicari bersama, tapi kesiapan mental itu yang paling utama. Kesiapan perubahan kegiatan sehari-hari setelah menikah, hal-hal kecil yang kadang tidak terpikirkan.

Bangun tidur.
Lajang             : Hari ini kerja pake baju apa ya?
Menikah          : Hari ini masak apa ya? (1)

Gajian.
Lajang             : Asik gajian, PVJ yuk! H&M diskon loh.
Menikah          : Iya. Gajian. Bayar cicilan, listrik, PDAM, belanja bulanan, sembako, apalagi?

Pulang kerja.
Lajang             : Ngopi dulu bisa kali.
Menikah          : Langsung pulang, bikinin minum buat suami, cuci piring, beres-beres, masak apa ya? (2)

Friday night.
Lajang             : Halfway? Chinook? Triangle? Atau Golden Monkey?
Menikah          : Kita malam ini pulang ke rumahmu, besok ke rumahku ya.

Sebelum tidur.
Lajang             : Bolak-balik path – IG – twitter, nonton drama Korea, ketiduran.
Menikah          : Beres-beres, angkat jemuran, nyetrika, besok masak apa ya? (3)

Weekend.
Lajang             : Check in path di resto A-B-C-D, trip to Gili-Bali-blalala, nyalon.
Menikah          : Aku cuci baju, kamu cuci piring. Aku nyapu, kamu ngepel.

Kecoa.
Lajang             : Gebuk pake sapu. Buang.
Menikah          : YAAANGGGG!!! ADA KECOAAAA!!!!

Path.
Lajang             : Upload quote kode buat pacar biar cepet diajak kawin.
Menikah          : Upload foto USG.

Lemari.
Lajang             : 40% baju digantung, 50% baju dilipat, 10% underwear.
Menikah        : 30 % baju istri dilipat, 60% baju suami dilipat & digantung. Baju istri digantung di mana?

Make-up.
Lajang           : Lipstik 10, bedak 3, BB cream 4, eye shadow full color lengkap, blush on warna peach sampe ungu, padahal mukanya Cuma 1.
Menikah          : “Mau ke mana sih? Pake dandan segala” – Suami.

Dapur.
Lajang             : Indomie, telur, kadang ada kornet.
Menikah     : Beras, minyak, gula, garam, merica, tempe, tahu, nugget, spicy wing, bawang-bawangan, sayuran, sampe bumbu gule sapi siap saji.

Hujan.
Lajang             : Makan Indomie sambil nonton DVD bajakan. Bobo siang.
Menikah          : Mensnya udah beres? Masa subur kan, yang?

Apotek.
Lajang             : Mba, ada dulcolax?
Menikah          : Mba, ada test pack?

Tengah malam.
Lajang             : Kebangun, laper, telpon Mekdi.
Menikah          : Yang....yuk!

Menikahlah dengan seseorang yang mau berbagi kulit ayam KFC denganmu, menikahlah dengan seseorang yang tidak membiarkanmu sibuk di dapur sendirian, menikahlah dengan seseorang yang mempersilakanmu untuk tidur terlebih dahulu, dan menikahlah dengan seseorang yang memercayakan ATMnya padamu. 

Dan bersiap-siaplah perubahan besar akan terjadi pada kehidupanmu. Susah disimpan berdua, senang dibagi bersama.

Tuesday, January 26, 2016

Rumah Anita


Untuk Doni,

Bukan kamu yang memaksaku pergi, tetapi aku yang menyerah dengan keadaan. Seakan takdir tidak bisa diubah. Seakan dunia tidak pernah berpihak padaku. Semua tahu, akan ada yang disalahkan ketika pasangan tidak lagi bersama, entah aku, kamu, atau keadaan.

Selama ini aku hanya menjalankan tugasku di dunia sebagai manusia yang hidup dengan moral yang baik, seorang anak yang berbakti pada orang tuanya, seorang istri yang patuh pada suaminya, seorang ibu yang melahirkan dan merawat anak-anaknya dengan baik, dan tentu sebagai seorang perempuan yang ditakdirkan untuk menerima.

Jika semua tugasku sudah selesai, apa aku bisa meraih atau bahkan menciptakan kebahagiaanku sendiri yang selama puluhan tahun ini aku simpan?

Maya dan Arya kini sudah menikah dan semua tugasku sudah selesai. Maka tidak ada alasan lain untuk aku bertahan di sini. Terima kasih sudah mencintaiku, meski aku percaya bahwa cinta hanyalah mitos.

And there's never a right time to say goodbye.

Anita.

Arya, anak lanang.

Begitu surat yang aku temukan di atas meja makan kemarin sore. Ayah terus mencari ibu, padahal usia ayah sudah menginjak kepala 6 dan kesehatannya tidak lagi seperti dulu. Entah apa isi kepala ibu dengan tega meninggalkan ayah sendirian.

Aku tidak bisa benci pada ibu, tetapi aku membenci keegoisannya. Bolehkah aku membenci bagian dari ibu? meski aku tahu hal ini bisa dibenci pula oleh Tuhan. Ayah tak henti-henti menangis dan melamun, berjalan kaki di sekitar rumah mencari ibu, menanyakan pada tetangga dan orang-orang yang berlalu lalang tentang keberadaan ibu.

Doni, suami Anita.

Anita, perempuan cantik yang aku nikahi 27 tahun lalu kini pergi. Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengannya, ia mengenakan rok abu dan kemeja merah jambu, rambutnya diikat ekor kuda, dan sepatu merah marun di kampusku. Saat itu ia sedang studi banding di Fakultas Seni.

Anita, engkau tanpa malu mendekati dan menanyakan siapa namaku, dengan jantung yang berdebar tak karuan aku berkata, “Saya Doni Anggoro, jurusan Manajemen”. Anita pintar, ya, ia pintar mengambil hatiku. Ia banyak mengubahku. Aku yang pendiam dan introvert berubah menjadi sosok yang terbuka dan senang berteman dengan siapa pun, sepertimu....Anita.

Anita, ingkatkah kamu saatku melamarmu? engkau tak langsung menjawab lamaranku, engkau mendiamkanku beberapa hari, akhirnya kau datang ke tempat kost di dekat tempat kerjaku dan menjawab, “tidak, aku tidak bisa menikah denganmu, Mas.”

Anita, usahaku menikahimu ternyata tidak sia-sia. Saat engkau mengatakan tidak, aku semakin mengejarmu. Aku nekat bertemu orang tuamu yang jauh di sebrang pulau Jawa. Gajiku sebagai pegawai Bank yang baru dikontrak selama 1 tahun, hanya cukup untuk bayar kost dan makan sehari-hari, aku tetap ingin melamarmu, meski ku tahu, kau sudah bersama pria lain.

Anita, engkau memang menerima lamaranku dan menikah denganku. Rasanya tak pernah ada masalah. Aku merasa kau mencintaiku juga. Jika pun rumah tangga kita sedang berada dalam masalah, tetapi kita tetap bisa menyelesaikannya. Apa kamu ingat saat aku di PHK karena krisis moneter? Engkau dengan sabarnya memberiku support hingga akhirnya kita berdagang masakan Makassar di dekat pasar dan kini usaha kita ternyata tidak sia-sia.

Anita, ternyata semuanya menjadi sia-sia jika pada akhirnya engkau pergi. Jika aku tahu engkau akan pergi di usia kita yang sama-sama senja dan hanya perlu menghitung hari kapan kita akan mati, maka aku tak perlu mengejarmu hingga ke Makassar saat engkau mengatakan ‘tidak’.

Maya, anak cikal.

Perutku sudah membesar, Bu. Cucu pertama ibu sebentar lagi akan lahir ke dunia, tapi mengapa ibu pergi ketika si jabang bayi ini akan lahir? Apa ibu membenci kami? Apa aku dan Arya belum cukup berbakti pada ibu?

Bu...sesungguhnya kebahagiaan apa yang ibu inginkan? Harta? Bukankah ayah telah memberikan segala apa pun yang ibu inginkan? Soal Arya? Arya kan sudah membuktikan bahwa ia bukan seorang gay seperti apa yang ibu curigai selama bertahun-tahun karena ia tak pernah punya pacar. Ia telah menikah dengan Lika 3 hari lalu.

Aku harus mencari ibu ke mana? Ke Makassar? Apa yang ibu kejar di sana? Aku tak bisa lagi pergi jauh kemana-mana atau kah ibu memang tak ingin dicari?


Anita

Arya....kamu boleh membenci ibumu ini, nak. Semua kekhawatiran ibu terhadapmu sudah terbayarkan. Lika bisa menjagamu lebih baik dari pada ibu.

Maya...Jagalah cucuku, pasti ia akan lebih bahagia ketika melihat eyangnya sudah jauh lebih bahagia dari beberapa puluh tahun sebelumnya. Beri ia nama Himaya.

Doni...suamiku, terima kasih telah menjadikanku seorang istri dan seorang ibu. Jangan bertanya apakah aku mencintaimu atau tidak. Aku di sini baik-baik saja. Aku tidak mau menyusahkanmu lagi.

Anita menulis surat tersebut dengan tangan yang gemetar, penglihatannya sudah kabur, dan sesekali ia menetaskan air mata. Berjalan dengan kaki yang tak lagi bisa berjalan cepat, ia mendatangi kantor pos lalu pergi ke sebuah bangsal, tempat ia akan menghabiskan sisa harinya.

“Apa sudah siap dengan keputusan ibu? Ibu Anita masih punya kesempatan”

“Ya, beri tahu keluargaku ketika jenazahku sudah dipulangkan ke Makassar”


Tuesday, November 10, 2015

Jumat dan Roman Ketiga

"Setidaknya masih ada ruang yang bisa mendengarkan, bukan menjemukan. Mungkin kamu tahu, jatuh sejatuh-jatuhnya bukan aku yang ingin. Hanya membiasakan lagi menjadi kita tidak lagi saling mengenal" - #365dayspagebookchallenge, hari ke-305.


Jumat Kedua 


Senyumnya masih sebatas sapaan hangat atau candaan lepas di saat satu ruang yang berdelapan. Biasanya kami duduk berhadapan yang tersekati, tapi Jumat malam itu, aku duduk bersebalahan dengannya membuatku tak tahu harus bertingkah apa, tanpa sentuhan tentunya. Awalnya memang tiada kata yang terucap dari mulutnya yang nampak terkunci dan membisu.

Obrolan tidak penting menjadi penting. Aku memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar setiap kata yang diucap. Kami berbicara hal ini dan itu tanpa saling menatap, hanya aku yang menatap. Itu pun hanya dengan sedikit keberanian.   

Tawaan renyah bersama dia menjadi barang langka. Waktu 30 menit menjadi waktu yang sangat singkat seperti sebuah kedipan mata. Tangan kami bersentuhan secara tidak sengaja. Jantungku berdebar seperti remaja yang sedang kasmaran. Aku mulai kecanduan. Ulangi lagi hari Jumat itu, agar setiap hari menjadi seperti Jumat malam itu.

Aku tak peduli dengan keadaanya, jika tidak ada yang mau atau tidak bisa disalahkan, mungkin aku bisa menyalahkan keadaan. Aku mengantar Nanda pulang, kebetulan hari itu hujan deras dan kebetulan arah pulang aku dengannya searah. Nanda turun dari mobilku dan melambaikan tangannya ke arah pintu yang disambut oleh seorang anak perempuan berusia 10 tahun di depan rumahnya yang tak lain adalah anak tunggal Nanda.

Jumat Pertama

Farewell party manager di kantorku terbilang sudah kelewatan. Mr. Ryu akan kembali ke Jepang dan ia menggiring semua karyawannya untuk berpesta. Jujur saja, aku bukan benci alkohol, aku hanya menghindarinya. Namun, teman sekantor mencekokiku dengan minuman yang tidak aku mengerti apa mereknya, yang pasti membuatku mabuk hingga semuanya terasa menegang. Mereka tahu aku bukan peminum. 

Perempuan itu, berambut ikal panjang, dan mataku tertuju padanya. Aku terduduk lalu ia menghampiriku. Tubuhnya membayang jadi dua, namun senyum dan dua lubang di pipinya ketika tersenyum masih terlihat. Ia menghampiriku dengan dan memapahku yang tak lagi sadar. Entah bagaimana tubuhku yang tinggi kurus bisa yang giring ke dalam mobil.

Kulit kami saling bersentuhan tanpa rasa malu Nanda menciumku perlahan. Alkohol memang membuat siapa pun lupa akan siapa dirinya. Aku mabuk. Apa Nanda pun mabuk? Aku tak tahu pasti. Sentuhan dan belaian hangatnya saja yang bisa aku rasa, hingga kau tahu pasti apa yang aku lakukan dengan Nanda. 

Jumat Ketiga

Awalnya tak pernah ada rasa sedikit dengan ibu beranak 1 itu. Aku hanya seorang bujang 34 tahun yang takut untuk mendekati perempuan. Aku ini bukan lelaki introvert, aku tegaskan lagi, aku hanya tidak bisa mendekati perempuan. Kami masih duduk berhadapan yang terhalangi oleh sekat kaca transparan. Tentu wajahnya selalu muncul di hadapanku. Konsentrasi bekerjaku mulai menurun. 

Seakan tak pernah ia sadari apa yang pernah ia lakukan di Jumat pertama. Sentuhannya masih terasa dan terbayang tak tahu waktu. Bibir tipisnya seakan mengajakku untuk berbicara dan mendaratkannya di sana. Tidak, sebaiknya aku harus pindah meja kerja. Setidaknya rambut ikal panjangnya tak melambaikanku untuk menggodanya. 

Sementara itu, aku pindahkan laptopku ke meja Alisha yang sedang business trip dalam jangka waktu panjang. Setidaknya aku memunggungi Nanda. Aku tak tahan.

Jumat sore ini hujan lagi. Aku berjanji bertemu teman kampus yang sudah lama tidak bertemu di restoran Mexico daerah Panglima Polim. Aku tiba terlebih dahulu. Seperti biasa, Andri selalu datang terlambat. 

“Sudah tiga batang nih, bos?” Andri menghampiriku.
“Wah....kebiasan lo nih, Ndri, ngaretnya kadang kurang ajar” kami saling berpelukan tapi bukan a la bromance.
 Kami tertawa sebentar.
“Sama siapa Den? Masih sendiri aja nih?” Tanya Andri
“Ya seperti biasa still stay alone but not lonely”.
“Mau gue kenalin gak sama temen-temen kantor baru istri gue? Cantik-cantik loh, kebetulan gue ajak dia kesini”
“Mana bini lo? Percuma cantik kalau udah jadi bini orang mah, Ndri. Seumur gue mana ada perempuan yang masih lajang”
“Lagi di toilet dia. Tenang, istri gue jagonya nyomblangin orang. Nah, ini dia orangnya datang. Sayang, kenalin ini Deni temen sekelasku dulu jaman kuliah waktu di Surabaya.”
“Deni”
“Nanda”






Sunday, November 8, 2015

Tabebuia

Wish i could turn you back into a stranger
Cause if I was never in your life
You wouldn't have to change this
But I know that I'll be happier
And I know you will too
- Tame Impala, Eventually.




Menyesap sebatang tembakau yang tak habis-habis. Hisap sebentar, lalu ku biarkan angin yang menghabiskannya. Semua orang suka senja, aku suka sore. Pukul 4 adalah milikku. Melihat Tabebuia yang tumbuh dengan perlahan membuatku merasa dunia pernah berpihak padaku.

Reza tak pernah datang hingga hari ini, padahal Tabebuia miliknya sudah ku rawat dengan sebaik-baiknya. Lima tahun yang lalu, ia memberi benih Sakura Jawa tersebut. Aku ingin yang warnanya merah jambu, tapi ketika tumbuh ia malah berwarna kuning.

Aku merawatnya sendiri. Berbagi tanah. Menyayangi dan menjaga dengan sebaik-baiknya. Di kala musim hujan atau kemarau aku sangat insecure pada Tabebuia. Siapa yang tak suka melihatnya, tinggi, kokoh, bahkan teduhnya Tabebuia miliknya yang juga milikku juga tidak tak ada yang mengalahkan. Warnanya terlalu memikat.

Menolak lupa dengan menghitung mundur ribuan hari ke belakang. Mencampuradukan ingatan perlahan. Mundur boleh saja untuk meluapkan ingatan baik, ingatan buruk dibuang pun akan sangat jauh lebih baik. Reza terlalu mengganggu pikiranku.

Dear Dahayu,
Entah mengapa saat kita bertemu bulan Februari lalu, semuanya berubah. Aku seperti sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya. Kamu mengalahkan kenyamanan apa pun. Aku ingat persis apa yang pernah kamu ucap, hingga kini aku begitu ingat ketika kamu mengatakan bahwa kamu lebih suka teh dari pada kopi. Kamu kebalikan dariku. 
Aku ingat pula saat kamu sangat terkagum melihat Tabebuia di kebun rumahku, sehingga aku memberimu 1 benih. Mungkin sekarang pohon cantik itu sudah melebihi pohon jambu depan rumahmu.
Tapi Dahayu, memutuskan adalah cara yang baik untuk mengakhiri atau bahkan memulai. Kadang menikah dengan orang dicintai, apalagi saling mencintai adalah keberuntungan yang tidak bisa semua orang dapatkan. Banyak yang menikah, tapi tidak saling cinta. Apa itu egois? Bagiku, iya.
Kamu bukan orang egois, aku tahu itu. Pikirkan baik-baik. Menikah itu seumur hidup hanya sekali. Kamu ingat apa yang pernah Djenar tulis? “Cinta tanpa menikah lebih sakral, dari pada menikah tanpa cinta” aku menyetujuinya. Bukan siapa yang lebih awal mengenalmu atau bahkan melamarmu, but who you love.

Email terakhir dari Reza. Entah apa maksudnya, ia mengirim pesan tersebut setelah memutuskan untuk tidak pernah menemuiku lagi dan menemui orang tuaku. TTS kalah membingungkan dibandingkan dengan jalan pikirannya.

Kembali menjadi orang asing adalah jalan tengah bagiku dan baginya, begitu pun bagi waktu yang telah kita bagi dan ruang yang kita pernah tempati. Mengembalikannya kembali menjadi orang asing pun adalah satu-satunya cara agar aku dengannya kembali bahagia. Sebelum ada dia, duniaku baik-baik saja, begitu pun dengan dirinya. Setelah ada dia, hidupku lebih dari baik-baik saja, tapi apa itu kebalikannya darimu, Reza?.

Sesungguhnya aku tak perlu terlalu berusaha merawat Tabebuia. Semua orang tahu bahwa Tabebuia lebih mudah hidup di musim kemarau dan akan tumbuh lebih cantik di musim hujan. Ia tahan dengan gangguan hama apa pun. Semuanya karena aku terlalu menyayangi Reza, hingga akhirnya ia memilih untuk tidak lagi melibatkanku dalam kehidupannya. Sudahlah, tak ada lagi guna menyebut dan mengingat namanya lagi.

Seperti biasa, setiap pukul 4 sore aku duduk di taman depan rumahku, kembali membiarkan angin menghabiskan sisa tembakauku. Tabebuiaku semakin besar dan cantik. Asalnya bukan dari Brazil yang pernah ia beri, melainkan dari rahimku. Reza menanamkan benih di tanah kandunganku. Tabebuia sudah 4 tahun dan sebentar lagi ulangtahun yang ke-5. Tabebuia seakan mengerti dan tak pernah bertanya peran ayah di dalam sebuah keluarga.

Ayahnya tak pernah mengetahui bahwa sudah ada Tabebuia lain yang telah hidup. Sebaiknya, ia akan selalu menjadi orang asing bagiku dan Tabebuia. 

Tuesday, September 15, 2015

Biru di Ujung Pena


Langun - Jika langun adalah sebuah kesenangan dan keindangan, maka jangan sungkan memanggilku Langun. Langun adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kesenangan dan dari bahasa Jawa ‘langen’ yang artinya keindahan. Aku yakin benar dengan Langun” surat terakhir dari Jena bulan Mei 2010.

Semuanya terlihat seperti roda memori yang berputar begitu lambat. Aku masih belum bisa melupakan Jena. Foto-foto dan tulisan tangannya masih ku simpan dengan apik. What i like about photograph is that they capture a moment that’s gone. Aku takut aku lupa dengan Jena.

Kamu ingat sahabat pena? Mereka pelaku yang berjuang untuk menjaga pertemanan dengan benturan jarak pada masanya. Sahabat pena pun ikut andil dalam membantu menafkahi pekerja pos. Amplop, kartu pos, surat, dan perangko adalah teman baik yang seakan terlupakan karena waktu. Bukan tak mau menerima teknologi, tetapi seni surat menyurat akan menjadi saksi cerita hidup yang akan membentuk legenda di masa yang entah kapan akan ada akhirnya.

Kami bertukar cerita melalui kata-kata yang absurd. Bertukar kata tanpa batas. Walau hanya dalam satu paragraf kata yang mungkin menurutmu adalah hal aneh dan membuang waktu. Bagiku, Jena dan suratnya adalah ujung jemariku yang membuatku semangat untuk menulis dan membalas suratnya, agar Jena tak berhenti menyuratiku.  

Surat pertamanya berawal dari acara radio di tahun 90-an. Program tersebut memberikan peluang bagi pendengarnya untuk melakukan pertemanan dengan cara bersahabat melalui pena. Pendengar saling bertukar alamat dengan cara mengirimkan alamatnya untuk disiarkan di radio.
Surat pertama Jena sampai di rumahku tahun 1998.

Jena, 1998, Temukan Dunia.
Karena kepuasan manusia tidak akan ada batasannya, begitu pun ujung lautan yang nihil ku temukan. Jika kamu tetap ingin menemukan ujung dunia, maka temukan ujungnya hingga tidak menepi. Ketika kamu menemukan persimpangan maka hidup memang seperti itu. 
Sepertinya Jena bukan orang biasa. Aku tak mengerti apa maksudnya. Aku pikir surat ini ditulis dengan standar menanyakan tanggal lahir, tempat sekolahku dimana, hobiku, atau yang lainnya. Aku jawab dengan hati-hati. Aku sungguh penasaran. Aku berusaha mengikuti gaya penulisan Jena, agar Jena balas penasaran denganku.

Rendra, 1998, Ruang dan Jarak
Karena selebihnya tak ada yang menandingi bagaimana Tuhan bekerja. Tak ada yang sanggup menjelaskan bagaimana sebuah ruang dan jarak tercipta. Mengenalmu adalah bagian cerita kecil hidupku yang tak pernah terkira.

Jena, 1999, Jendela
Ketika jendela rumah tertutup maka kebaikan dan kehangatan akan segera menepi menjauh. Buka sedikit demi sedikit jendela rumahmu, terutama jendela hatimu. Bukan kah keterbukaan memiliki kesempatan untuk merambat di ruangmu? Terutama hatimu, Ren.
Rendra, 1999, Kembali Soal Jarak
Celah di antaranya seperti hanya berjarak tak lebih dari sejengkalan jari. Seperti terhimpit dan mendekatkan jarak satu sama lain.



Jena, 1999, Perjalanan
Sebaik-baiknya perjalanan adalah ketika kamu menikmatinya. Entah itu akan pulang atau pergi. Sesuatu yang indah bisa dinikmati dengan sesederhana perasaan tanpa keluh kesah. Semua perjalanan akan baik-baik saja, karena baik atau buruknya Tuhan sudah atur. Doa yang jadi pendampingku.

Pertama kalinya Jena mengirimkan sebuah foto berbentuk polaroid, foto tersebut menggambarkan sebuah perahu di atas sungai yang mungkin berada di daerah terpencil. Sepertinya bukan di pulau Jawa, mungkin Sumatera, Kalimanta, Sulawesi, atau bahkan papua. Aku tak tahu.

Rendra, 1999, Seruak
Jika dalamnya sungai menyeruak tanpa tahu dalamnya, maka seperti itu pun aku ke padamu. Hati orang siapa yang tahu. Maka jika sedikit pun, aku perlu mengetahui.

Aku sudah mengira. Jena mungkin sudah pergi jauh dari rumahnya. Selama 2 tahun suratku tidak dibalasnya. Mungkin ia pergi dan hidupku masih berjalan apa adanya. Aku baru saja lulus dari kuliahku di jurusan Ilmu Komunikasi. Aku berpindah ke Jakarta untuk bekerja. Aku masih penasaran dengan kabar Jena. Maka, aku tetap menulis surat padanya.

Rendra, 2001, Kopi dan Getir
Kenikmatan teh aku simpan dulu untuk beberapa hari ini. Terlalu sibuk bekerja mungkin. Hari-hari yang sibuk rasanya kopi lebih baik untuk menemani, teh menemaniku saat hariku terasa lebih ringan. Maksudku, ketika suasana hati sedang getir. Seakan kopi lekat dengan kegetiran.
Jena, 2001, Kopi dan Filosofinya yang Macam-Macam
Kadang dua cangkir kopi saja tidak cukup untuk menelusuri harimu. Perlu berbagai rasa untuk mencicipi betapa nikmatnya dunia ini. Pada dasarnya, kopi sederhana dan sebegitu apa adanya. Biar lidah dan hati yang tentukan. Memilih kopi pun tidak bisa dipaksa, sama seperti memilih hati dan masa depanmu.
Jen, ternyata kamu masih berada di Jogja. Setiap kali pulang ke Jogja, aku menunggu suratmu. Apa mungkin kita bisa bertemu?

Rendra, 2001, Temu
Jika sebuah temu maka akan menjadi candu, apakah temu adalah akar sebuah rindu? Jika setuju, temui aku pukul 1 siang tanggal 8 September 2001 di Benteng Vredeburg.

Sedari pukul 1 siang hingga sore menjelang dan hingga petugas benteng memberi kode agar aku cepat meninggalkan benteng yang tutup sebelum adzan magrib, Jena tidak datang. Tunggu....aku kan tidak tahu Jena seperti apa. Ciri-ciri fisiknya pun aku tak tahu, begitu pun dia. Ah...kadang tindakan bodoh membutakan rasa penasaran. Mungkin, Jena pun datang dan mencariku dengan kesal. Bodohnya aku ini. Aku malu.

Jena, 2002, Balasan Sebuah Frekuensi Pertemuan
Frekuensi sebuah pertemuan yang sebentar biasanya akan lebih melekat. Seakan tidak ada waktu untuk membicarakan hal buruk. Bagaimana dengan kita? Pertemuan pun berada di titik yang tidak pernah kita ketahui. Biar takdir yang melekatkannya. 


Sepertinya, Jena memang tidak datang pada saat itu. Aku lega. Aku ingin mengirimkan sebuah potret di Stasiun Jakarta Kota pada Jena. Agar ia tahu, aku berada dimana saat ini.

Rendra, 2003, Ayo Tebak, Apa Persamaan Stasiun dan Hati?
Jen, potret sebuah stasiun ini katanya sama seperti hati, mereka sama-sama kadang kosong kadang hampa, tetapi kadang berlalu lalang banyak yang datang tapi tak ada yang tinggal. Buatlah hatimu seperti rumah yang akan tetap menjadi tempat sebuah pulang dan selalu dirindukan.



Empat tahun berlalu begitu seperti sebuah lagu yang mengalun. Ingatanku soal Jena seperti terkubur dalam sebuah dasar lubang yang menutup dan harus terkubur. Pada akhirnya, aku menikah dengan teman kampusku. Apa kabar Jena, apa ia sudah menikah? Entahlah...sejak dulu aku tak pernah tahu berapa usianya, nama lengkapnya, rupanya seperti apa, dan yang aku tahu hanya alamat rumahnya.

Jena, 2007, Us
Apa yang kita telusuri kadang mereka tak perlu tahu, karena semua tidak selalu tentang aku dan kamu. We are not too important. Everything is not always about us. Sudah ku bilang, dunia akan baik-baik saja jika ada atau pun tanpa kita. Keberadaan kita tidak sepenting itu. Selami hari kita masing-masing, maka dunia pun tidak akan berubah.


Tahukah apa yang terjadi? Surat tersebut diterima oleh istriku yang saat itu sedang menginap di rumah ibuku. Kami bertengkar hebat. Jena tidak salah, semuanya karena Jena tidak tahu. Istriku mengira aku menduakannya. Pada akhirnya, aku memperlihatkan semua surat-surat dari Jena. Aku menceritakan kisah sebentarku yang tidak nyata dengan Jena. Asti akhirnya mengerti, ia menganggapnya sebuah kekonyolan belaka. Menganggap Jena adalah orang iseng yang kesepian.

Rendra, 2008, Penerimaan.
Biar tanya yang jawab atas sebuah penerimaan. Layaknya laki-laki terhadap perempuannya atau kebalikannya. Maka sebuah penerimaan bukanlah menjadi hal yang saling memberatkan. Ketahuilah karena ‘saling’ adalah kata kunci sebuah penerimaan. Bukan hanya kamu saja begitu pun dengan hanya aku saja.
Jena seperti hantu, Jena seperti makhluk virtual, dan Jena seperti teman atau bahkan kekasih khayalan. Aku selalu membayangkan rupa Jena. Mungkin ia seorang gadis, berkulit kecoklatan, berparas ayu, berambut kepang panjang, dan memakai rok selutut. Perasaan ini lain, setiap kali membaca suratnya, jantungku berdegup tak karuan. Diam-diam aku mengirimi suratnya lagi. Berharap Jena membalasnya, asalkan bukan Asti yang membaca balasannya.

Jena, 2008, Langkah
Hati-hati melangkah sama-sama, karena melangkah bersama kaki kiri dan kanan pun pasti berbeda. Jika kita akan melangkah bersama, yakinlah kakimu tak akan melangkah mendahului kakiku atau kamu berjalan lambat hingga langkahmu tertinggal jauh dariku. Berjalan beriringan bukan hal mudah, sayang. Begitu pula dengan meninggalkan atau ditinggalkan, bukan hanya pilihanmu, tapi pilihanku juga.

Apa maksudmu Jen? Kamu akan meninggalkanku dan berhenti menyuratiku? Meski aku hanya menerima kabar darimu setahun sekali, bagiku kau itu lebih dari langkahku, sudah ku bilang, kau ini jemariku.

Rendra, 2008, Bersandar
Memang, di bahu kananku ada dunianya yang ku simpan disini. Bukan maksud membebani diriku sendiri, tetapi bahu kiri ku masih ku sediakan untukmu. Berbagi dunia denganmu adalah maksud Tuhan. Semua berjalan apa adanya, meski tanpa terucap, tanpa pertemuan, anggaplah semuanya adalah sebuah tanda. Karena semua pertemuan pada akhirnya akan bermuara.

  
Langun adalah surat terakhirnya, aku tak tahu apa maksudnya. Sudahlah, Jena memang tidak nyata. Anggaplah orang iseng yang hanya mempermainkan kata-kata sebagai mainannya.

Keluarga kecilku tumbuh di kota metropolitan. Buah cintaku dan Asti kini telah memasuki usia sekolah. Ia anak perempuan yang sangat cerewet dan suka sekali berbicara, sama seperti ibunya. Di hari pertamanya masuk sekolah dasar, aku rela izin tak masuk kantor agar tak melawatkan moment penting bersamanya. Aku mengantarnya sekolah dan menjemputnya, sementara Asti? Ia berada di luar kota yang mengharuskannya bekerja di hari pertama anaknya masuk sekolah.

“Ayaaaahhh!” Seruni dan beserta teman-temannya berhamburan keluar kelas. Ia datang padaku bersama teman barunya. Runi berlari menggandengnya.
“Halo cantiknya ayah, gimana sekolah pertamamu? Seru?”
“Seru yah! Disini Runi temennya banyak, ini temenku yah. Mamanya gak bisa jemput, pulang bareng kita aja ya. Boleh?”
“Boleh sayang, halo siapa namamu nak?”
“Langun, Om!”

Jena. Hari ini akhirnya tiba.