Sunday, November 8, 2015

Tabebuia

Wish i could turn you back into a stranger
Cause if I was never in your life
You wouldn't have to change this
But I know that I'll be happier
And I know you will too
- Tame Impala, Eventually.




Menyesap sebatang tembakau yang tak habis-habis. Hisap sebentar, lalu ku biarkan angin yang menghabiskannya. Semua orang suka senja, aku suka sore. Pukul 4 adalah milikku. Melihat Tabebuia yang tumbuh dengan perlahan membuatku merasa dunia pernah berpihak padaku.

Reza tak pernah datang hingga hari ini, padahal Tabebuia miliknya sudah ku rawat dengan sebaik-baiknya. Lima tahun yang lalu, ia memberi benih Sakura Jawa tersebut. Aku ingin yang warnanya merah jambu, tapi ketika tumbuh ia malah berwarna kuning.

Aku merawatnya sendiri. Berbagi tanah. Menyayangi dan menjaga dengan sebaik-baiknya. Di kala musim hujan atau kemarau aku sangat insecure pada Tabebuia. Siapa yang tak suka melihatnya, tinggi, kokoh, bahkan teduhnya Tabebuia miliknya yang juga milikku juga tidak tak ada yang mengalahkan. Warnanya terlalu memikat.

Menolak lupa dengan menghitung mundur ribuan hari ke belakang. Mencampuradukan ingatan perlahan. Mundur boleh saja untuk meluapkan ingatan baik, ingatan buruk dibuang pun akan sangat jauh lebih baik. Reza terlalu mengganggu pikiranku.

Dear Dahayu,
Entah mengapa saat kita bertemu bulan Februari lalu, semuanya berubah. Aku seperti sudah mengenalmu bertahun-tahun lamanya. Kamu mengalahkan kenyamanan apa pun. Aku ingat persis apa yang pernah kamu ucap, hingga kini aku begitu ingat ketika kamu mengatakan bahwa kamu lebih suka teh dari pada kopi. Kamu kebalikan dariku. 
Aku ingat pula saat kamu sangat terkagum melihat Tabebuia di kebun rumahku, sehingga aku memberimu 1 benih. Mungkin sekarang pohon cantik itu sudah melebihi pohon jambu depan rumahmu.
Tapi Dahayu, memutuskan adalah cara yang baik untuk mengakhiri atau bahkan memulai. Kadang menikah dengan orang dicintai, apalagi saling mencintai adalah keberuntungan yang tidak bisa semua orang dapatkan. Banyak yang menikah, tapi tidak saling cinta. Apa itu egois? Bagiku, iya.
Kamu bukan orang egois, aku tahu itu. Pikirkan baik-baik. Menikah itu seumur hidup hanya sekali. Kamu ingat apa yang pernah Djenar tulis? “Cinta tanpa menikah lebih sakral, dari pada menikah tanpa cinta” aku menyetujuinya. Bukan siapa yang lebih awal mengenalmu atau bahkan melamarmu, but who you love.

Email terakhir dari Reza. Entah apa maksudnya, ia mengirim pesan tersebut setelah memutuskan untuk tidak pernah menemuiku lagi dan menemui orang tuaku. TTS kalah membingungkan dibandingkan dengan jalan pikirannya.

Kembali menjadi orang asing adalah jalan tengah bagiku dan baginya, begitu pun bagi waktu yang telah kita bagi dan ruang yang kita pernah tempati. Mengembalikannya kembali menjadi orang asing pun adalah satu-satunya cara agar aku dengannya kembali bahagia. Sebelum ada dia, duniaku baik-baik saja, begitu pun dengan dirinya. Setelah ada dia, hidupku lebih dari baik-baik saja, tapi apa itu kebalikannya darimu, Reza?.

Sesungguhnya aku tak perlu terlalu berusaha merawat Tabebuia. Semua orang tahu bahwa Tabebuia lebih mudah hidup di musim kemarau dan akan tumbuh lebih cantik di musim hujan. Ia tahan dengan gangguan hama apa pun. Semuanya karena aku terlalu menyayangi Reza, hingga akhirnya ia memilih untuk tidak lagi melibatkanku dalam kehidupannya. Sudahlah, tak ada lagi guna menyebut dan mengingat namanya lagi.

Seperti biasa, setiap pukul 4 sore aku duduk di taman depan rumahku, kembali membiarkan angin menghabiskan sisa tembakauku. Tabebuiaku semakin besar dan cantik. Asalnya bukan dari Brazil yang pernah ia beri, melainkan dari rahimku. Reza menanamkan benih di tanah kandunganku. Tabebuia sudah 4 tahun dan sebentar lagi ulangtahun yang ke-5. Tabebuia seakan mengerti dan tak pernah bertanya peran ayah di dalam sebuah keluarga.

Ayahnya tak pernah mengetahui bahwa sudah ada Tabebuia lain yang telah hidup. Sebaiknya, ia akan selalu menjadi orang asing bagiku dan Tabebuia. 

No comments:

Post a Comment