Saturday, August 1, 2015

No Father-Daughter Wedding Song



Karena anak perempuan tidak akan bisa bertahan tanpa nasihat ayahnya” – Perempuan Sore



Sebaiknya aku tak perlu seemosional ini ketika menceritakan soal seorang ayah. Si anak perempuan manja ini tadi pagi sempat menangis ketika ingat bahwa hari ini adalah tanggal 1 Agustus, artinya sudah 13 tahun ia tinggal pergi oleh Ayahnya tanpa pamit. Lelaki kesayangannya diperintah Tuhan untuk segera pulang.

Amarahku tak tertahan, emosiku meledak-ledak, dan tak sanggup lagi menyeka air mata yang terbuang. Pernah suatu hari, ketika melihat seorang anak perempuan lain memakai toga dan hari bahagianya yang nampak begitu sempurna. Ayahnya menggeondongnya dengan perasaan yang nampak bahagia tiada tandingan. Ketika melihatnya, hatiku sakit bukan main. Aku merasa Tuhan tidak berada di pihakku. Aku benar-benar menangis melebihi tersedu-sedu. Mengapa harus ayahku yang pulang? Bukan ayah dari anak-anak yang lain? Saat itu, aku marah pada Tuhan. Aku berada di titik yang mudah dijatuhkan.

Marahku pada peciptaku membuatku tidak mau menepati kewajiban sebagai seorang muslimah, tidak mau solat, malas berbuat baik, mulai mengabaikan keluarga, merokok, hingga mabuk-mabukan. Belum lagi berkali-kali patah hati yang karena memang bukan kesalahanku. Tak ada yang bisa menjagaku. Semua keburukan seakan menjadi temanku. Aku seperti binatang liar yang lepas dari kandangnya, berkeliaran tidak tahu mau kemana, dan tidak menemukan jalan pulang.

Sedari dulu, aku merasa ingin segera menikah, agar ada yang bisa menggantikan tugas ayahku untuk menjagaku, melindungiku, dan menuntunku untuk berubah menjadi seorang anak perempuan yang baik. Saat mengenakan toga pun hatiku terasa sakit sekali, apalagi ketika aku akan menikah nanti? Aku benar-benar takut. Hatiku pasti akan lebih sakit dari hari yang lalu ketika aku mengenakan toga. 

Tahun 2015 ini, Tuhan membukakan pintu untuk kembali ke jalan-Nya. Bulan Mei lalu aku ditegur-Nya dan Tuhan Maha baik, ia memberiku sakit yang tidak bisa dijelaskan secara medis sebagai jalan untuk menjadi anak yang baik bagi keluarga dan sebagai penggugur dosa-dosaku. ‘Ngadoja ka Gusti Allah’ adalah dosa terberatku, aku mengakuinya.

Tentu, semua anak perempuan ingin menikah dengan didampingi ayahnya sebagai wali nikahnya. Bahkan, lagu ‘Marry Your Daughter’ yang diinginkan hampir semua anak perempuan pun seakan tidak bisa berlaku untukku. Lelaki yang aku cari adalah tentu yang bisa menjadi pengganti sosok ayahku yang bisa mendekatku dengan Tuhan, menggantikan tugas ayahku untuk melindungi si anak manja ini, dan tentu menyayangi keluargaku. 

Jangan salahkan aku jika aku sering menangisi ayah, bukan karena aku marah pada-Mu. Ini hanya bentuk kerinduan lain untuk ayah. Hatiku sudah tidak sakit lagi, seharusnya. Doa-doaku menemanimu di rumah Tuhan, begitu pula doa-doamu yang menuntunku di dunia.

Semoga di hari yang abadi nanti, aku akan tetap menjadi anak perempuanmu dan engkau akan tetap menjadi ayahku.


2 comments:

  1. Happiness always comes from within, and its found in the present moment by making peace with the past and looking forward to the future... Great story resly... #maaf singlishnya berantakan hha

    ReplyDelete