“Karena anak perempuan
tidak akan bisa bertahan tanpa nasihat ayahnya” – Perempuan Sore
Sebaiknya aku tak perlu
seemosional ini ketika menceritakan soal seorang ayah. Si anak perempuan manja
ini tadi pagi sempat menangis ketika ingat bahwa hari ini adalah tanggal 1
Agustus, artinya sudah 13 tahun ia tinggal pergi oleh Ayahnya tanpa pamit. Lelaki
kesayangannya diperintah Tuhan untuk segera pulang.
Amarahku tak tertahan, emosiku
meledak-ledak, dan tak sanggup lagi menyeka air mata yang terbuang. Pernah suatu
hari, ketika melihat seorang anak perempuan lain memakai toga dan hari
bahagianya yang nampak begitu sempurna. Ayahnya menggeondongnya dengan perasaan
yang nampak bahagia tiada tandingan. Ketika melihatnya, hatiku sakit bukan
main. Aku merasa Tuhan tidak berada di pihakku. Aku benar-benar menangis
melebihi tersedu-sedu. Mengapa harus ayahku yang pulang? Bukan ayah dari
anak-anak yang lain? Saat itu, aku marah pada Tuhan. Aku berada di titik yang
mudah dijatuhkan.
Marahku pada peciptaku membuatku
tidak mau menepati kewajiban sebagai seorang muslimah, tidak mau solat, malas
berbuat baik, mulai mengabaikan keluarga, merokok, hingga mabuk-mabukan. Belum lagi
berkali-kali patah hati yang karena memang bukan kesalahanku. Tak ada yang bisa
menjagaku. Semua keburukan seakan menjadi temanku. Aku seperti binatang liar
yang lepas dari kandangnya, berkeliaran tidak tahu mau kemana, dan tidak
menemukan jalan pulang.
Sedari dulu, aku merasa ingin
segera menikah, agar ada yang bisa menggantikan tugas ayahku untuk menjagaku,
melindungiku, dan menuntunku untuk berubah menjadi seorang anak perempuan yang
baik. Saat mengenakan toga pun hatiku terasa sakit sekali, apalagi ketika aku
akan menikah nanti? Aku benar-benar takut. Hatiku pasti akan lebih sakit dari
hari yang lalu ketika aku mengenakan toga.
Tahun 2015 ini, Tuhan membukakan
pintu untuk kembali ke jalan-Nya. Bulan Mei lalu aku ditegur-Nya dan Tuhan Maha
baik, ia memberiku sakit yang tidak bisa dijelaskan secara medis sebagai jalan
untuk menjadi anak yang baik bagi keluarga dan sebagai penggugur dosa-dosaku. ‘Ngadoja
ka Gusti Allah’ adalah dosa terberatku, aku mengakuinya.
Tentu, semua anak perempuan ingin
menikah dengan didampingi ayahnya sebagai wali nikahnya. Bahkan, lagu ‘Marry
Your Daughter’ yang diinginkan hampir semua anak perempuan pun seakan tidak
bisa berlaku untukku. Lelaki yang aku cari adalah tentu yang bisa menjadi
pengganti sosok ayahku yang bisa mendekatku dengan Tuhan, menggantikan tugas
ayahku untuk melindungi si anak manja ini, dan tentu menyayangi keluargaku.
Jangan salahkan aku jika aku
sering menangisi ayah, bukan karena aku marah pada-Mu. Ini hanya bentuk
kerinduan lain untuk ayah. Hatiku sudah tidak sakit lagi, seharusnya. Doa-doaku
menemanimu di rumah Tuhan, begitu pula doa-doamu yang menuntunku di dunia.
Semoga di hari yang abadi nanti,
aku akan tetap menjadi anak perempuanmu dan engkau akan tetap menjadi ayahku.

Happiness always comes from within, and its found in the present moment by making peace with the past and looking forward to the future... Great story resly... #maaf singlishnya berantakan hha
ReplyDeleteThank you Barun :)
ReplyDelete